"Kami butuh waktu untuk total dicek, tidak separuh-separuh. Jika ini masih jalan terus, kami tidak bisa mendapatkan data potensi dampak," tegas Dian.
Plengkung Nirbaya merupakan satu-satunya plengkung dengan dimensi paling besar dan struktur ruang paling kompleks. Aktivitas di area tersebut juga sangat tinggi, yang berkontribusi pada penurunan kondisi bangunan. Upaya perbaikan yang dilakukan selama ini hanya bersifat parsial, dan tidak memberikan dampak yang signifikan.
Tingginya aktivitas di area ini tentu mengancam keberlangsungan cagar budaya yang sangat berharga ini. Dahulu, masyarakat bahkan bisa naik ke atas Plengkung Nirbaya, beraktivitas di atasnya, dan bahkan melakukan tindakan yang amoral. Hal ini selain memberikan kerentanan terhadap bangunan, juga menodai nilai luhur bangunan bersejarah ini.
Hasil dari mitigasi dan recovery akan dievaluasi secara berkala setiap tahapnya. Ia menekankan pentingnya mitigasi dan pengawasan terhadap aktivitas di sekitar Plengkung untuk memastikan keselamatan struktur bangunan.
Baca Juga: Terjadi Deformasi, Menjadi Alasan Plengkung Gading Ditata Ulang
Menanggapi kritikan dari masyarakat yang merasa terbatasi oleh penutupan ini, Dian mengingatkan akan pentingnya menjaga warisan budaya. Ia berharap masyarakat dapat berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya yang ada. Selain itu, ia juga berharap masyarakat dapat memahami bahwa penutupan ini adalah langkah penting untuk menjaga identitas dan warisan budaya Yogyakarta.
"Kita perlu merendahkan ego demi menghargai warisan. Jika simbolnya hilang, akan semakin parah. Betul bahwa ada yang jalannya harus memutar. Tapi kan bukan tanpa solusi. Ayo sama-sama kita tumbuhkan rasa memiliki. Ketika penanda utama ini mengalami kerusakan, kita harus rela memberikan waktu untuk pemulihan," tutup Dian.