TITIKTEMU.CO, YOGYAKARTA - Polres Probolinggo, Jawa Timur, mengamankan enam orang yang diduga terlibat memicu kebakaran di Blok Savana Lembah Watangan atau Bukit Teletubbies di kawasan Gunung Bromo.
Mereka adalah kru Wedding Organizer (WO) dan pasangan pengantin yang melakukan pengambilan foto prewedding alam dengan menggunakan flare.
Baca Juga: Presiden Jokowi Menutup KTT Ke-43 ASEAN
Selaku Fotografer Senior Anggota HISFA, Roy Suryo pun mengecam tindakan konyol yang dilakukan oleh wedding organizer, fotografer, hingga calon pengantin tersebut.
“Saya sangat mengecam Tindakan Konyol (Gegabah) yg dilakukan oleh WO/Wedding Organizer bersama fotografer dan pasangan calon penganten yg telah mengakibatkan Kebakaran di Bukit Teletubbies Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kemarin,” kata Roy Suryo dalam keterangannya, Kamis (7/9/2023).
Menurut mantan Dosen Fotografi di UGM & ISI Jogja itu, di era teknologi yang sudah sangat berkembang maju dalam bidang fotografi saat ini, penggunaan perangkat pembuat asap (flare) saat sesi foto prewedding adalah tindakan yang sangat ceroboh.
“Sebab sebenarnya kejadian tersebut samasekali tidak perlu terjadi musibah kebakaran, bahkan tidak perlu menggunakan perangkat pembuat asap dan api (flare) sungguhan yang berbahaya. Bahkan lebih ektrim lagi kalau mau dikatakan tidak perlu harus jauh-jauh berfoto di area yang dilindungi konservasi alam tersebut,” ujar Roy.
Baca Juga: Siap-siap War! Pendaftaran Pembelian Tiket Piala Dunia U-17 2023 Resmi Dibuka. Cek Linknya Di Sini
Kalau hanya ingin berfoto dengan background asap dan api, menurut Roy, sebenarnya cukup foto-foto saja di lokasi dan selanjutnya diedit melalui komputer, misalnya menggunakan Program Adobe Photoshop.
“Bahkan kalau mau lebih praktis dan murah lagi, mereka cukup foto-foto di studio dengan latar belakang polos yang nantinya diganti dengan foto nyala flare yang bisa didapatkan dari hasil foto ditempat aman atau menggunakan library yang banyak tersedia,” kata Roy.
Baca Juga: Jelang Rilis iPhone 15, iPhone 14 Turun Harga Hingga Rp 2 Jutaan
Oleh karena itu, Roy Suryo menilai kejadian ini adalah sebuah kekonyolan yang sangat berharga mahal. Di samping hasilnya tidak sesuai harapan, hutan di TNBTS menjadi korbannya, sekaligus masyarakat yang kini untuk waktu yang belum bisa ditentukan tidak bisa ke lokasi tersebut.
“Sebuah pelajaran berarti dari ketidaktahuan teknologi atau memang mau mencari sensasi yang sangat tidak perlu di era kemajuan fotografi saat ini,” pungkas Roy Suryo.***