TITIKTEMU.CO, JAKARTA - Pemilihan Presiden tinggal berbilang bulan lagi. Pilpres akan diselenggarakan 14 Februari 2024. Sementara tahapan pendaftaran Capres - Cawapres telah ditetapkan 19 Oktober - 25 November 2023.
Saat ini setidaknya, ada tiga nama bakal calon Presiden yang wara-wiri di media, dan digaungkan akan menjadi Calon Presiden. Mereka adalah Prabowo Subianto, saat ini Menteri Pertahanan Kabinet Joko Widodo, Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang segera mengakhiri jabatannya, dan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Baca Juga: Kalau Ganjar Dipasangkan Dengan Erick, Akan Menduduki Tempat Peringkat Teratas
Sementara nama bakal calon wakil presiden, lebih banyak lagi yang beredar, antara lain Menteri BUMN Erick Thohir, Menparekraf Sandiaga Uno, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, hingga putri Presiden keempat RI Yenny Wahid.
Melihat figur-figur yang muncul memang belum bisa tertebak siapa yang akan menjadi orang nomor satu di Indonesia melalui Pilpres 2024 nanti. Karena banyak hal yang bisa menentukan hasil Pilpres.
Baca Juga: Wasekjen PBNU : Mayoritas Pemilih PKB Ternyata Tak Pilih Muhaimin
Pakar sosiologi politik Fisipol Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Dr Kuskridho Ambardi mengatakan, organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama dan Presiden Joko Widodo bisa menjadi penentu kemenangan calon presiden saat berlaga pada pemilihan presiden 2024 mendatang.
Ini bisa dilihat dari hasil survei dari beragam lembaga yang menyatakan jarak keterpilihan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo sangat tipis bahkan masih masuk dalam batas galat atau batas kesalahan (margin of error).
Baca Juga: Dirut Taspen Mulai Angkat Bicara Soal Perceraian hingga Status Tersangka Kamaruddin Simanjuntak
“Data dari lembaga survei kredibel menunjukkan bahwa jarak Pak Prabowo dan Pak Ganjar masih dalam rentang margin of error. Kalau dengan Mas Anis memang agak jauh jaraknya, jadi kita coba menganalisis yang jaraknya dekat dulu, antara Pak Ganjar dan Pak Prabowo,” kata Dodi, panggilan akrab Dr Kuskridho Ambardi, dosen senior di Fisipol UGM Yogyakarta, Kamis 31 Agustus 2023.
Dengan hasil yang masih dalam rentang margin of error, maka jika hasil survei Ganjar ditambah 2 persen dan Prabowo dikurangi 2 persen (rentang margin of error) atau sebaliknya, maka cukup mencari suara tambahan 5-7 persen bagi Prabowo maupun Ganjar supaya bisa memenangi laga politik lima tahunan ini.
Baca Juga: Piala EFL Carabao Cup: Manchester City Bertemu Lawan Berat di Putaran Ketiga. MU melawan Crystal Palace
“Ketika 5 sampai 7 persen itu dibutuhkan, NU sebagai basis masa terbesar di Indonesia saya kira sangat bisa,” ujar Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2010-2019.
Doktor ilmu politik dari Ohio State University (OSU) Amerika Serikat ini menganalisa, dukungan dari NU sangat diperlukan karena organisasi yang kini telah berusia 2 abad ini memiliki basis massa loyal tradisional yang cukup bisa digerakkan oleh sebuah tim. NU juga memiliki pengalaman menggerakkan massa dan banyak tokoh NU yang memiliki pengalaman elektoral.