internasional

Gragasan, Pasukan Penjaga Perdamaian Gabon Lakukan Pelecehan Seks 5 Gadis di Afrika Tengah Dipulangkan PBB

Kamis, 16 September 2021 | 16:30 WIB
Gambar representatif pasukan penjaga perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah. (UN News MINUSCA)

TITIKTEMU.CO - Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan bahwa semua unit militer Gabon yang dikerahkan sebagai pasukan penjaga perdamaian di Republik Afrika Tengah, yang diberi nama MINUSCA, akan segera dipulangkan, menyusul tuduhan bahwa pasukan 'helm biru' telah melakukan pelecehan seksual pada lima gadis.

Dilansir dari laman UN News, MINUSCA mengatakan bahwa tim tanggap darurat telah dikirim ke lokasi terjadinya pelecehan seks, untuk menilai situasi, menetapkan langkah-langkah pencegahan dan meningkatkan kesadaran di antara masyarakat tentang bagaimana melaporkan eksploitasi dan pelecehan seksual.

Juru Bicara PBB mengatakan kepada koresponden dalam konferensi pers harian reguler di New York, misi telah merujuk para korban ke mitra kemanusiaan untuk bantuan medis, psikososial dan perlindungan, sejalan dengan kebijakan PBB tentang dukungan kepada korban eksploitasi dan pelecehan seksual.

Baca Juga: Kehamilan Remaja di Negara ini Melonjak di Tengah Pandemi Covid-19

Pada tanggal 7 September, Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta otoritas Gabon untuk menunjuk seorang penyelidik nasional dalam waktu lima hari kerja agar penyelidikan selesai dalam waktu kurang dari 90 hari”, demikian dalam rilis MINUSCA.

Ditambahkan, Kantor Pengawasan Internal PBB ( OIOS) juga telah membuka penyelidikan dan “siap membantu jika penyelidik nasional ditunjuk.”

“Karena sifat serius dari tuduhan terbaru yang dilaporkan ini, Sekretariat PBB mengambil keputusan untuk memulangkan seluruh kontingen Gabon dari MINUSCA”, lanjut rilis tersebut.

Baca Juga: Punya Puluhan Ribu Pengikut di Instagram dan Diendorse 100 Sponsor, Influencer Cantik ini Ternyata Robot

Republik Afrika Tengah yang kaya akan berlian, kayu dan emas, telah berjuang untuk menemukan stabilitas sejak peristiwa pemberontakan pada 2013 yang menggulingkan pemerintahan presiden Francois Bozize.

Kekerasan telah berkobar di Republik Afrika Tengah sejak pemilihan umum pada Desember di mana Presiden Faustin-Archange Touadera menang untuk masa jabatan kedua, namun hasil pemilu itu disengketakan oleh koalisi milisi.

Sejumlah tuduhan pelecehan seksual telah mengganggu misi pemeliharaan perdamaian PBB selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Mengapa Harga Kopi Luwak Mahal? Karena...  

Mantan kepala MINUSCA, Babacar Gaye, mengundurkan diri pada 2015 di tengah tuduhan pelecehan seksual terhadap pasukan penjaga perdamaian, yakni kasus baru yang muncul pada 2016.

Republik Afrika Tengah tidak sendirian. Di Republik Demokratik Kongo, puluhan tuduhan pelecehan seksual juga dilaporkan pada 2017.***

Tags

Terkini