Armada Militer AS Sudah Siaga di Kawasan
Sebelum pengumuman blokade tersebut, Amerika Serikat sebenarnya telah menempatkan sejumlah kapal tempur di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Drama Korea Bertema Chaebol Paling Ikonik: Dari Cinta Kontrak hingga Dunia Elite yang Penuh Intrik
Data dari USNI News menunjukkan bahwa gugus tempur yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) telah beroperasi di Laut Arab dalam misi militer bernama Operation Epic Fury.
Kapal induk ini membawa berbagai pesawat tempur modern seperti F/A-18 Super Hornet, EA-18G Growler, hingga jet tempur siluman F-35C yang digunakan Korps Marinir Amerika Serikat.
Pengawalan armada tersebut juga melibatkan sejumlah kapal perusak berpeluru kendali seperti USS Spruance (DDG-111) dan USS McFaul (DDG-74), sementara kapal perusak lain beroperasi di kawasan Laut Merah untuk memperkuat kehadiran militer AS di wilayah yang semakin tegang.
Selain itu, kekuatan amfibi yang dipimpin kapal USS Tripoli (LHA-7) juga dikerahkan untuk mendukung operasi di kawasan tersebut.
Baca Juga: Ramai Sorotan Anggaran Rp113 Miliar untuk EO, Ini Penjelasan Badan Gizi Nasional
Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak
Ketegangan geopolitik yang meningkat di sekitar Selat Hormuz langsung memicu kekhawatiran di pasar energi global.
Analis pasar minyak dari Rystad Energy, Janiv Shah, memperkirakan blokade tersebut dapat mendorong harga minyak naik signifikan karena pasar menghadapi risiko gangguan pasokan yang besar.
Beberapa trader bahkan memprediksi harga minyak Amerika Serikat bisa mendekati 98 dolar per barel pada awal perdagangan minggu ini.
Sementara itu, utusan ekonomi Rusia Kirill Dmitriev memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak hingga 150 dolar per barel jika konflik semakin meluas.
Namun tidak semua analis sepakat dengan skenario tersebut.
Ahli strategi investasi dari Saxo Bank, Neil Wilson, menilai pasar mungkin tidak akan bereaksi terlalu ekstrem karena sebagian investor percaya bahwa ancaman eskalasi sering kali digunakan sebagai strategi negosiasi politik.