TITIKTEMU.CO - Media sosial Indonesia belakangan diramaikan ungkapan satir “Habis Nepal Terbitlah Prancis.” Kalimat ini jelas mengadaptasi karya R.A. Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang, tapi dipelintir menjadi sindiran politik atas gejolak di dua negara berbeda.
Sekilas memang ada kemiripan: rakyat turun ke jalan karena kecewa pada penguasa. Namun, jika dicermati, motif di baliknya sangat berbeda.
Baca Juga: Gejolak Nepal: Dari Tragedi Istana 2001 hingga Demonstrasi Gen Z 2025
Nepal: Generasi Muda Melawan Represi dan Nepotisme
Di Nepal, amarah rakyat dipicu oleh larangan penggunaan media sosial.
Bagi generasi muda, khususnya Gen Z, ini dianggap sebagai pembungkaman suara.
Ditambah kasus korupsi dan nepotisme yang merajalela, kepercayaan terhadap pemerintah makin runtuh.
Aksi protes pun menjelma bentrokan berkepanjangan di jalanan Kathmandu.
Tuntutan mereka bukan sekadar ekonomi, melainkan reformasi politik yang lebih dalam.
Baca Juga: IFG di Lapangan Futsal: Saat Pasar Modal Bertemu Sportivitas
Prancis: Penolakan Kebijakan Ekonomi yang Mencekik
Sementara itu di Prancis, ribuan orang memadati jalan-jalan Paris pada 10 September 2025 lewat aksi Bloquons tout (Block Everything).
Mereka menolak kebijakan pemangkasan anggaran 44 miliar euro, penghapusan dua hari libur nasional, pembekuan kenaikan pensiun, serta pengurangan dana kesehatan.
Gelombang protes ini akhirnya menggulingkan Perdana Menteri François Bayrou.