TITIKTEMU.CO CILACAP - Belangkon tentu sudah tidak asing lagi bagi orang Jawa. Belangkon merupakan penutup atau ikat kepala pria dalam tradisi busana Jawa.
Dulu cara mengenakannya tidak sepraktis sekarang. Namun harus melalui proses pengikatan dan berpola sesuai bentuk kepala.
Baca Juga: Jaga kondusivitas keamanan KTT G20, sidang Kasus Sambo ditunda. Ini jadwal persidangan yang baru
Sekarang kain polos atau motif batik itu dilipat, dililit, dan dijahit sehingga membentuk topi yang dapat dikenakan langsung.
Tak hanya sebagai penutup kepala saja, ternyata belangkon memiliki arti filosofi mendalam, sebagai wujud penjaga harga diri penggunanya.
Zaman dahulu banyak pria yang memanjangkan rambutnya, mereka selalu mengikat dengan kain atau menggulung rapi ke belakang kepala kemudian disembunyikanlah dalam belangkon.
Rambut hanya boleh terurai saat berada di rumah. Jika tidak, rambut terurai bisa diartikan sedang berada dalam perkelahian karena menunjukkan emosi yang meluap.
Jadi belangkon merupakan sikap dari pengendalian diri. Tidak jelas kapan dan bagaimana asal muasal pria Jawa memakainya.
Variasi belangkon Jawa ditentukan oleh wilayahnya lho! Dari gaya Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, Purbalingga, dan masih banyak lagi daerah di Pulau Jawa yang memiliki khas tersendiri.
Banyumas memiliki belangkon dengan model Wiratmadja dan Ginoan. Purbalingga memiliki model yang disebut Belangkon Soedirman mewakili Pahlawan Jenderal Soedirman yang lahir di Purbalingga.
Di Galeri Batik Hadipriyanto Banyumas, misalnya ada sejumlah belangkon berbagai gaya dan motif ada di sini.