TITIKTEMU.CO-Burnout dulu sering dianggap sebagai harga yang harus dibayar demi karier yang sukses. Tinggal di kota besar, bekerja di gedung perkantoran modern, dan menjalani ritme hidup super cepat seolah menjadi simbol keberhasilan generasi profesional muda. Namun dalam beberapa tahun terakhir, narasi itu mulai berubah.
Laporan dari World Health Organization (WHO) bahkan telah mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan dan ditandai oleh kelelahan kronis, meningkatnya jarak emosional terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas kerja. Di Indonesia, berbagai survei kesehatan kerja juga menunjukkan bahwa tekanan psikologis di tempat kerja semakin menjadi perhatian serius, terutama di kalangan pekerja produktif usia 30-an.
Pertanyaannya, apakah kota besar masih menjadi jawaban untuk kehidupan yang lebih baik?
Burnout Bukan Lagi Masalah Individu
Selama bertahun-tahun, burnout sering dipandang sebagai kelemahan pribadi. Jika seseorang kelelahan, dianggap kurang mampu mengatur waktu atau tidak cukup tangguh menghadapi tekanan.
Padahal, perspektif sosiologis menunjukkan hal yang berbeda.
Burnout adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungan sosial tempat ia hidup. Kota besar menawarkan banyak peluang, tetapi juga menghadirkan kompetisi yang nyaris tanpa jeda. Waktu perjalanan yang panjang, biaya hidup yang tinggi, target kerja yang terus meningkat, serta ekspektasi sosial untuk selalu produktif menciptakan tekanan yang berlangsung setiap hari.
Akibatnya, banyak profesional mulai merasa lelah bahkan ketika mereka sebenarnya sedang mencapai target karier yang diinginkan.
Baca Juga: Indonesia Pangkas Daftar Bebas Visa dari 169 Jadi 16 Negara, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Kota Besar dan Budaya "Selalu Aktif"
Salah satu ciri khas kehidupan urban adalah budaya yang mendorong seseorang untuk terus bergerak.
Pagi bekerja, malam membalas email, akhir pekan mengikuti pelatihan atau membangun side hustle. Aktivitas tanpa henti ini perlahan membuat batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi kabur.
Teknologi yang seharusnya memudahkan justru sering memperpanjang jam kerja. Notifikasi yang terus muncul membuat otak sulit benar-benar beristirahat.
Tidak mengherankan jika banyak profesional mengaku merasa kelelahan meskipun secara teknis mereka tidak sedang melakukan pekerjaan fisik yang berat.
Baca Juga: Agent Kim Reactivated, Drama Korea yang Membuktikan Ayah Biasa Bisa Jadi Senjata Paling Berbahaya