TITIKTEMU.CO-"Masih jomblo? Santai aja, nanti juga ketemu."
"Belum punya anak? Jangan dipikirin terus, dibawa happy aja."
"Kerjaan lagi susah? Bersyukur saja, banyak yang lebih susah."
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar akrab bagi banyak orang Indonesia. Biasanya muncul saat Lebaran, reuni sekolah, arisan keluarga, atau acara kumpul besar lainnya. Niatnya sering kali baik: ingin menghibur, menyemangati, atau mencairkan suasana. Namun tanpa disadari, sebagian kalimat tersebut justru bisa meninggalkan luka emosional.
Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity, yaitu dorongan untuk selalu berpikir positif dan menyingkirkan emosi negatif, bahkan ketika seseorang sedang menghadapi masalah yang nyata dan berat.
Ketika Kumpul Keluarga Menjadi Sumber Kecemasan
Bagi sebagian orang, momen berkumpul bersama keluarga adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Namun bagi sebagian lainnya, acara keluarga justru menghadirkan rasa cemas.
Bukan karena tidak menyayangi keluarga, melainkan karena mereka sudah bisa menebak pertanyaan yang akan muncul.
"Sudah umur segini kok belum menikah?"
"Gajinya sekarang berapa?"
"Kapan beli rumah?"
"Adiknya saja sudah sukses, masa kamu belum?"
Pertanyaan seperti ini sering dianggap biasa karena sudah menjadi bagian dari budaya obrolan keluarga. Padahal, tidak semua orang siap membicarakan kondisi hidupnya di depan banyak orang.
Di balik senyum yang terlihat, bisa jadi seseorang sedang berjuang menghadapi kegagalan, kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan mental, atau tekanan hidup yang tidak diketahui orang lain.