TITIKTEMU.CO - Banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi diam-diam sedang kelelahan di dalam. Mereka tersenyum, bekerja normal, ramah saat berbicara, dan tampak mampu mengikuti ritme sekitar. Namun di balik itu, ada usaha besar untuk terus menyesuaikan diri. Inilah yang sering disebut masking.
Masking adalah kebiasaan menyembunyikan diri asli agar terlihat sesuai dengan lingkungan. Seseorang menahan gerakan alami, memaksa kontak mata, meniru gaya komunikasi orang lain, menekan rasa sensitif, atau terus berpura-pura nyaman. Hal ini sering dialami individu ADHD, autisme, dan banyak orang neurodivergent lainnya.
Sekilas masking terlihat seperti kemampuan adaptasi. Padahal jika dilakukan terus-menerus, efeknya bisa sangat melelahkan. Energi habis bukan karena pekerjaan saja, tetapi karena harus memainkan peran setiap hari. Tubuh hadir di kantor, tetapi pikiran terus bekerja keras untuk terlihat “normal”.
Baca Juga: Polisi Periksa Sopir Taksi dan Masinis Usai Kecelakaan KRL–KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur
Masalahnya, kelelahan akibat masking sering tidak terlihat. Atasan mungkin melihat karyawan yang rapi, rajin, dan profesional. Rekan kerja melihat orang yang tenang dan mampu berfungsi baik. Namun setelah pulang, orang tersebut bisa merasa kosong, sulit bicara, mudah marah, atau langsung tumbang karena kehabisan tenaga.
Burnout pada karyawan neurodivergent sering berbeda dari gambaran umum. Tidak selalu terlihat emosional atau menyerah total. Kadang justru muncul sebagai sulit fokus, sensitif berlebihan, menarik diri, sering sakit, kehilangan motivasi, atau mendadak tidak sanggup menjalani rutinitas sederhana.
Lingkungan kerja sering ikut memperparah kondisi ini. Ruangan bising, cahaya terlalu terang, aturan sosial tidak jelas, rapat mendadak, multitasking berlebihan, dan budaya kerja yang menuntut selalu aktif bisa menjadi sumber tekanan besar. Bagi sebagian orang, hal kecil seperti suara printer atau notifikasi terus-menerus bisa sangat menguras energi.
Baca Juga: Bukan Cuma Uang, Sekarang Orang Mulai Investasi pada Otak: Inilah Konsep “Brain Wealth”
Masking juga berdampak pada identitas diri. Jika terlalu lama berpura-pura, seseorang bisa lupa bagaimana dirinya yang asli. Ia tahu cara menyenangkan orang lain, tetapi bingung memahami kebutuhan sendiri. Ini bisa memicu cemas, sedih, dan rasa terasing meski berada di tengah banyak orang.
Kabar baiknya, masking bisa dikurangi. Langkah pertama adalah menyadari bahwa lelahmu mungkin bukan karena kamu lemah, tetapi karena terlalu lama menahan diri. Mengenali pola ini sering menjadi titik balik penting.
Langkah berikutnya, buat ruang aman untuk menjadi diri sendiri. Itu bisa dimulai dari rumah, komunitas, sahabat dekat, atau terapis. Tempat di mana kamu tidak harus terus tampil sempurna.
Baca Juga: 4 WNI Disandera Bajak Laut Somalia: BRIN Usulkan Diplomasi hingga Pendekatan Ormas Islam
Di tempat kerja, komunikasi juga penting. Jika memungkinkan, sampaikan kebutuhan yang realistis seperti waktu fokus tanpa gangguan, penggunaan headphone, jadwal lebih jelas, atau ruang kerja lebih tenang. Penyesuaian kecil sering memberi dampak besar.
Bagi pemimpin tim dan HR, memahami masking sangat penting. Tidak semua burnout terlihat keras dan dramatis. Kadang karyawan terbaik justru yang paling diam saat sedang hancur di dalam.