Bayangkan seseorang membeli kursus online yang mahal tetapi kemudian tidak benar-benar membutuhkannya.
Baca Juga: Indonesia Mulai Terasa Mendidih, BMKG Ungkap Wilayah yang Sudah Masuk Musim Kemarau
Alih-alih berhenti dan mengakui bahwa keputusan awalnya kurang tepat, orang tersebut sering tetap memaksakan diri mengikuti kursus itu hanya karena merasa sayang dengan uang yang sudah dikeluarkan.
Dalam dunia investasi, bias ini bisa membuat seseorang terus menambah dana pada investasi yang sebenarnya sudah tidak memiliki prospek baik.
Alasannya bukan karena analisis baru, tetapi karena mereka tidak ingin merasa bahwa keputusan awal mereka salah.
Bias ketiga yang sering memengaruhi keputusan finansial adalah anchoring bias.
Bias ini terjadi ketika seseorang terlalu terpaku pada satu angka atau informasi awal saat membuat keputusan.
Baca Juga: 4 WNI Disandera Bajak Laut Somalia: BRIN Usulkan Diplomasi hingga Pendekatan Ormas Islam
Misalnya, seseorang membeli saham pada harga tertentu dan kemudian menggunakan harga tersebut sebagai patokan utama.
Jika harga saham turun jauh di bawah angka itu, mereka merasa saham tersebut “murah” hanya karena membandingkannya dengan harga beli awal, bukan dengan kondisi pasar saat ini.
Padahal dalam kenyataannya, harga awal tersebut tidak selalu relevan dengan nilai sebenarnya dari aset tersebut sekarang.
Hal menariknya, bias-bias ini tidak hanya memengaruhi investor profesional, tetapi juga hampir semua orang dalam kehidupan sehari-hari.
Saat memutuskan membeli sesuatu, menabung, atau bahkan memilih pekerjaan, otak manusia sering mengambil jalan pintas mental yang tidak selalu rasional.
Namun memahami adanya bias kognitif bisa menjadi langkah penting untuk membuat keputusan finansial yang lebih baik.
Ketika kita menyadari bahwa otak memiliki kecenderungan tertentu, kita bisa mulai memperlambat proses pengambilan keputusan.