TITIKTEMU.CO - Banyak orang mengira keputusan keuangan buruk biasanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang investasi atau ekonomi.
Padahal dalam banyak kasus, masalahnya bukan pada informasi yang kita miliki, melainkan pada cara otak kita memproses informasi tersebut.
Di sinilah konsep yang disebut cognitive bias atau bias kognitif memainkan peran penting.
Bias kognitif adalah kecenderungan mental yang membuat manusia mengambil keputusan secara tidak rasional tanpa menyadarinya.
Fenomena ini dipelajari dalam bidang psikologi dan behavioral finance karena pengaruhnya sangat besar terhadap cara kita mengelola uang.
Salah satu bias yang paling kuat adalah loss aversion.
Baca Juga: Skill Keuangan yang Paling Dicari Perusahaan di 2026, Sudah Punya Belum?
Secara sederhana, manusia cenderung merasa kehilangan jauh lebih menyakitkan dibanding kesenangan saat mendapatkan keuntungan.
Misalnya, kehilangan Rp1 juta sering terasa lebih menyakitkan daripada rasa senang saat mendapatkan Rp1 juta.
Karena itulah banyak investor enggan menjual aset yang sedang merugi.
Mereka berharap harga akan kembali naik suatu hari nanti, meskipun secara logika mungkin keputusan terbaik justru menghentikan kerugian lebih awal.
Bias lain yang sangat umum adalah sunk cost fallacy.
Ini adalah kecenderungan untuk terus mempertahankan keputusan yang sudah terbukti salah hanya karena kita sudah mengeluarkan uang atau waktu sebelumnya.
Contoh sederhana bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.