TITIKTEMU.CO - Pernah merasa panik saat mendengar anak teman sudah lepas popok di usia 2 tahun, sementara anakmu masih nyaman dengan diapers?
Tenang, kamu tidak sendirian—dan yang lebih penting, kamu tidak terlambat.
Sebuah survei dari C.S. Mott Children's Hospital pada 2025 menunjukkan bahwa memang benar, sekitar 54% orang tua mulai potty training di usia 2 tahun. Tapi angka itu sering disalahartikan sebagai “standar wajib”. Padahal, data lengkapnya justru lebih menenangkan.
Sekitar 21% orang tua memulai lebih awal, sementara 22% lainnya baru mulai di usia 3 tahun. Bahkan yang paling menarik, 75% orang tua memilih memulai potty training bukan karena usia, tapi karena anak mereka sudah menunjukkan tanda-tanda siap.
Baca Juga: Anime Legendaris Sepanjang Masa yang Wajib Masuk Watchlist, Ceritanya Bikin Susah Berhenti Nonton
Artinya? Tidak ada garis finish yang sama untuk semua anak.
Potty Training Bukan Perlombaan
Tekanan sosial sering membuat orang tua merasa harus “mengejar ketertinggalan”.
Padahal, perkembangan anak bukan kompetisi. Setiap anak punya ritme biologis dan emosionalnya sendiri.
Dalam dunia parenting modern, pendekatan yang semakin banyak didukung adalah child-led readiness—alias mengikuti kesiapan anak, bukan memaksakan jadwal.
Anak yang dipaksa terlalu dini justru berisiko mengalami:
- Penolakan (refusal)
- Stres atau tantrum saat ke toilet
- Proses yang lebih lama dan melelahkan
Sebaliknya, anak yang dilatih saat siap cenderung:
- Lebih cepat memahami proses
- Lebih mandiri
- Minim drama
- Tanda Anak Sudah Siap (Bukan Sekadar Umur)
Daripada fokus ke angka usia, lebih penting mengenali sinyal dari anak. Beberapa tanda kesiapan potty training antara lain:
- Bisa tetap kering selama 2–3 jam
- Mulai sadar saat ingin buang air
- Tertarik dengan toilet atau kebiasaan orang dewasa
Bisa mengikuti instruksi sederhana
Menunjukkan ketidaknyamanan saat popok kotor