TITIKTEMU.CO - Di era TikTok, self-care sering terlihat indah, estetik, dan… mahal. Video tentang lilin aromaterapi, bubble bath berbusa, skincare 10 langkah, hingga journaling di kafe aesthetic membanjiri timeline. Semua terlihat menenangkan.
Tapi ada satu pertanyaan penting: kalau self-care itu benar, kenapa banyak orang tetap merasa lelah, cemas, bahkan burnout?
Jawabannya sederhana—banyak yang kita konsumsi di TikTok bukan self-care yang menyelesaikan masalah, tapi hanya “self-soothing” sementara.
Baca Juga: UU PPRT Resmi Berlaku: Upah, Jam Kerja, hingga Hak Ibadah Pekerja Rumah Tangga Kini Diatur Negara
Self-Care Versi TikTok: Nyaman Tapi Dangkal
Konten self-care viral biasanya fokus pada hal-hal yang mudah dijual dan terlihat menarik secara visual.
Bubble bath, masker wajah, kopi mahal, atau liburan singkat memang bisa memberi efek rileks. Namun, ini hanya menyentuh permukaan.
Masalahnya, stres kita jarang berasal dari kurangnya lilin aromaterapi.
Sebagian besar tekanan hidup datang dari hal yang lebih dalam: pekerjaan yang melelahkan, hubungan yang tidak sehat, kurang tidur kronis, atau beban mental yang tidak pernah benar-benar diproses.
Self-care versi TikTok sering mengabaikan akar masalah ini.
Self-Care yang Benar: Tidak Selalu Nyaman, Tapi Berdampak
Self-care yang benar bukan selalu tentang merasa nyaman saat ini, tapi tentang membangun kehidupan yang lebih sehat dalam jangka panjang.
Dan seringkali, ini justru tidak terasa “menyenangkan”.
Contohnya: