TITIKTEMU.CO - Di tengah maraknya tren self improvement, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam konsep toxic positivity yang menuntut untuk selalu terlihat kuat, bahagia, dan positif dalam segala situasi.
Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan mulus, dan memaksakan diri untuk terus positif justru bisa membuat seseorang merasa tertekan secara emosional.
Self improvement yang sehat bukan tentang menutupi emosi negatif, tetapi tentang memahami dan mengelolanya dengan lebih bijak.
Baca Juga: Penantian 17 Tahun Terjawab! AHY dan Annisa Pohan Sambut Kelahiran Putra Kedua
Menjadi versi terbaik dari diri sendiri tidak harus berarti selalu produktif atau selalu terlihat baik-baik saja.
Justru, menerima bahwa kita juga bisa lelah, gagal, dan butuh waktu istirahat adalah bagian penting dari proses berkembang.
Banyak riset psikologi menunjukkan bahwa menerima emosi negatif secara sehat dapat meningkatkan kesejahteraan mental dibandingkan menekannya.
Baca Juga: Ngena Banget! 10 Drama Korea Ini Bongkar Realita Pahit Usia 30-an yang Jarang Dibahas
Langkah pertama dalam self improvement yang realistis adalah mengenali diri sendiri dengan jujur.
Pahami apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.
Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda, sehingga standar keberhasilan pun tidak bisa disamaratakan.
Selain itu, penting untuk menetapkan tujuan yang masuk akal dan tidak berlebihan.
Baca Juga: Tembus Rp33 Miliar! Segini Tarif Kapal Lewati Selat Hormuz yang Bikin Dunia Geger
Target yang terlalu tinggi justru bisa membuat kita mudah merasa gagal dan kehilangan motivasi.