TITIKTEMU.CO - Jika kamu selama ini melihat para digital nomad nongkrong di pantai sambil membuka laptop, atau bekerja dari kafe estetik di Bali, mungkin kamu berpikir: “Enak banget hidup mereka.
Kerja fleksibel, bisa jalan-jalan, duit ngalir.” Tapi tunggu dulu—benarkah gaya hidup digital nomad semudah itu?
Atau sebenarnya penuh perjuangan yang sering tidak ditampilkan di Instagram?
Baca Juga: Sukabumi: Kota yang Tidak Tergesa, Slow Living dengan Bernapas Lega
Tren Kerja Tanpa Kantor: Menggoda Banyak Orang
Istilah digital nomad merujuk pada orang-orang yang bekerja secara remote dengan memanfaatkan internet sambil berpindah-pindah tempat.
Mereka biasanya memilih destinasi yang hidupnya terjangkau namun nyaman, seperti Bali, Chiang Mai, atau Bangkok.
Gaya hidup ini booming setelah pandemi saat kerja remote semakin diterima.
Banyak orang akhirnya berpikir, “Kalau kerja bisa dari mana saja, ngapain harus terjebak di Jakarta tiap hari?” Logis memang. Tapi, perlu dipahami bahwa menjadi digital nomad tidak sekadar “kerja pakai laptop dari kafe”. Ini bukan liburan berkepanjangan.
Baca Juga: Fenomena ‘Healing on Budget’: Gaya Hidup Anti Stres di Tengah Dompet Tipis
Mitos vs Realita
1. Mitos: Digital nomad hidup penuh kebebasan
Faktanya? Jam kerja sering tak menentu, mengikuti zona waktu klien. Kadang kerja larut malam sampai ngopi mulu biar tetap waras.