gaya-hidup

Slow Living di Kedu: Bukan Hanya Melambatkan Langkah, Tapi Juga Menata Ulang Ritme Hidup  

Senin, 27 Oktober 2025 | 16:05 WIB
Slow Living di Kedu: Bukan Hanya Melambatkan Langkah, Tapi Juga Menata Ulang Ritme Hidup. (Instagram@wisatamagelang)

Warga pendatang yang sudah bertahun-tahun tinggal di Magelang  menceritakan hidup di Kedu, termasuk Magelang, memang nyaman, dan menenangkan.

Namun, hidup bisa tidak selalu praktis. Dia menyebut transportasi umum yang sangat terbatas, sehingga warga bergantung pada kendaraan pribadi.

Ironisnya, kondisi jalan tidak terlalu lebar sehingga kemacetan tak terhindarkan, terutama pada jam-jam sibuk, meski tidak separah kemacetan di Jakarta atau kota besar lain.

Selain transportasi, fasilitas umum juga masih minim. Toko-toko tutup lebih awal, pusat perbelanjaan besar nyaris tidak ada, dan akses layanan modern seperti bioskop atau co-working space erbatas.

Harga tanah di beberapa titik juga meningkat pesat, terutama di Magelang dan sekitarnya. Fenomena ini membuat kawasan yang dulunya dianggap murah kini mulai tidak ramah bagi kalangan muda yang baru memulai karier.

Baca Juga: Hidup di Era Flexing: Antara Tekanan Sosial, Gaya Hidup, dan Kesehatan Finansial

Tantangan bagi Usia Produktif

Beberapa pendatang lain membenarkan Dataran Kedu ideal untuk menenangkan diri. Namun, hal ini tidak berlaku bagi usia produkstif atau mereka yang masih aktif bekerja.

Karena itu, mereka yang masih berada di usia produktif perlu mempertimbangkan betul sebelum pindah ke daerah yang berorientasi slow living.

“Kalau tidak pintar-pintar menjaga ritme kerja, bisa terbawa suasana yang terlalu santai. Pola kerja orang di sini lebih lambat, dan itu bisa menular,” tambahnya.

Selain itu, aspek sosial di pedesaan yang memerlukan penyesuaian besar bagi pendatang dari kota besar.

“Di desa, masyarakat punya banyak waktu luang dan tuntutan sosialnya berbeda. Kita dituntut untuk aktif di kegiatan warga, sementara waktu kita mungkin habis untuk pekerjaan,” ujarnya.

Karena itu, jika di usia muda memilih hidup di desa, pastikan potensi diri tidak terhambat. Jangan sampai semangat slow living membuat kehilangan produktivitas.

Baca Juga: Freelance Life: Kebebasan Finansial atau Perjuangan Tanpa Batas di Tengah Ekonomi Gig?

Antara Damai dan Realita

Halaman:

Tags

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB