Baca Juga: Baca Surat Yasin 3 Kali pada Malam Nisfu Syaban, Niat dan Caranya
Rabu Wekasan dalam Pandangan Hadits
Meski tradisi ini cukup populer di kalangan masyarakat, sebagian ulama menegaskan tidak ada hadits sahih yang menjelaskan turunnya bala khusus pada Rabu terakhir bulan Safar.
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah (merasa sial karena burung atau tanda tertentu), tidak ada hamah (anggapan sial karena burung hantu atau gagak), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."
Hadits ini menjadi dasar bahwa anggapan bulan Safar sebagai bulan penuh musibah tidaklah benar. Dalam Islam, semua hari dan bulan adalah sama, tidak ada yang membawa kesialan maupun keberuntungan tertentu.
Karena itu, sebagian besar ulama kontemporer memandang tradisi Rabu Wekasan hanya sebagai budaya lokal, bukan bagian dari ajaran Islam yang wajib diikuti.
Baca Juga: Pahami 3 Amalan Hari Jumat, Ada Keutamaan Membaca Surat Al Kahfi!
Antara Tradisi dan Keyakinan
Di Indonesia sendiri, Rabu Wekasan diperingati secara beragam mulai dari doa bersama di masjid, sedekah makanan, bahkan ada juga masyarakat yang menghindari bepergian jauh.
Namun, para ulama mengingatkan agar umat Islam tetap berpegang pada Alquran dan Hadist. Keyakinan bahwa bala khusus turun pada Rabu Wekasan jangan sampai menimbulkan rasa takut berlebihan.
Adapun amalan yang dilakukan pada Rabu Wekasan lebih baik dimaknai sebagai doa dan ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan karena meyakini ada kekuatan mistis pada hari itu.***