Allah berfirman:
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِۚ حَتّٰىٓ اِذَا حَضَرَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ اِنِّيْ تُبْتُ الْـٰٔنَ وَلَا الَّذِيْنَ يَمُوْتُوْنَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۗ اُولٰۤىِٕكَ اَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا
Artinya: “Tidaklah tobat itu (diterima Allah) bagi orang-orang yang melakukan keburukan sehingga apabila datang ajal kepada seorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, “Saya benar-benar bertobat sekarang.” Tidak (pula) bagi orang-orang yang meninggal dunia, sementara mereka di dalam kekufuran. Telah Kami sediakan azab yang sangat pedih bagi mereka.” (QS. An-Nisa [4]: 18)
Al-Baghawi dalam tafsirnya, Ma’alimuttanzil fi Tafsiril Qur’an, menjelaskan bahwa ayat tersebut menegaskan, kalau para pendosa yang terlambat bertobat dan memohon ampun kepada Allah, maka tobatnya tidak akan diterima. Terlambat dalam konteks ayat tersebut yakni ketika dirinya berada di ambang maut, ketika sakaratul maut mengintai di balik takdir yang maha kuasa. Sehingga, walaupun seseorang berkata, “Saya benar-benar bertobat sekarang.”
Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Terbaru Bulan Desember 2024, Tema: Manfaat Introspeksi Diri di Akhir Tahun
Akan tetapi dirinya sudah dalam kondisi sakaratul maut, maka tobatnya sia-sia. Hal inilah yang akan membuat dirinya menyesal selamanya. Sebab, apabila waktu tersebut telah tiba pada diri manusia, Al-Baghawi menegaskan, bahwa yang tidak beriman tidak akan diterima keimanannya, begitupun yang muslim dan terus menerus melakukan dosa hingga ajal menjelang, tidak akan diterima tobatnya.
Jama’ah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum penghujung tahun ini sebagai sarana untuk segera bermuhasabah, bertobat dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Sebab, jangan sampai gara-gara terlambat bertobat, kita justru menjadi insan yang menyesal selama-lamanya.
Dalam firman Allah yang lain, bahwasanya Dia memerintakan supaya kita orang-orang yang beriman untuk senantiasa bertobat agar kita menjadi orang yang beruntung. Allah ta'ala berfirman:
وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Baca Juga: Perlu Bahan Materi Kultum Ramadan, Khutbah Jumat dan Khutbah Idul Fitri , Silahkan Unduh di sini
Artinya: “Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31)
Jama’ah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah ta’ala Tentu saja, agar tobat kita diterima oleh Allah ta'ala, maka kita perlu memperhatikan syarat-syarat sah bertobat. Jika dosa menyangkut hubungan sesama manusia, maka salah satu cara yang harus kita penuhi adalah memohon maaf dan keridhaan atas apa yang telah kita lakukan kepada mereka yang telah kita zalimi, serta menyesali perbuatan kita. Begitu juga yang menyangkut hubungan kita kepada Allah swt, kita harus mohon ampun, menyesal dan bertekad tidak mengulangi perbuatan dosa kita di masa mendatang.
Sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Al-Ghunyah:
أَمَّا شُرُوطُهَا فَثَلَاثَةٌ: أَوَّلُهَا النَّدَمُ عَلَى مَا عَمِلَ مِنَ الْمُخَالَفَاتِ، وَهُوَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "النَّدَمُ تَوْبَةٌ". وَعَلَامَةُ صِحَّةِ النَّدَمِ رِقَّةُ الْقَلْبِ وَغَزَارَةُ الدَّمْعِ، وَلِهَذَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "جَالِسُوا التَّوَّابِينَ فَإِنَّهُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً". وَالثَّانِي تَرْكُ الزَّلَّاتِ فِي جَمِيعِ الْحَالَاتِ وَالسَّاعَاتِ. وَالثَّالِثُ الْعَزْمُ عَلَى أَلَّا يَعُودَ إِلَى مِثْلِ مَا اقْتَرَفَ مِنَ الْمَعَاصِي وَالْخَطِيئَاتِ
Artinya, “Adapun syarat tobat itu ada tiga: Pertama, menyesali perbuatan salah yang telah dilakukan, hal ini berdasarkan hadits Rasulullah, ‘Menyesal atas kesalahan adalah tobat’. Tanda dari penyesalan adalah kelembutan hati dan berderainya air mata. Karenanya Rasulullah saw mengatakan, ‘Berkumpullah kalian bersama orang yang bertobat, sebab hati mereka lembut’. Kedua, meninggalkan segala kesalaha di mana pun dan kapan pun. Ketiga, berjanji dan selalu berusaha tidak kembali pada dosa dan kesalahan.”