أَنْ يَتُوبَ الرَّجُلُ مِنَ الْعَمَلِ السَّيِّئِ، ثُمَّ لَا يَعُودُ إِلَيْهِ أَبَدًا
Artinya, “Seorang Muslim bertobat dari perbuatan buruk, kemudian tidak melakukannya kembali selamanya.”
Konsep tobat nasuha ini selaras dengan tahun baru yang sering diidentikkan dengan momentum resolusi diri dengan merencanakan target-target satu tahun ke depan dan mengevaluasi capaian-capaian satu tahun ke belakang.
Artinya dalam aspek ibadah, seorang Muslim juga harus memiliki resolusi peningkatan amal baik dan pencegahan amal buruk yang sudah dilakukan satu tahun ke belakang untuk perbaikan di tahun yang akan datang.
Tahun baru adalah pergantian waktu yang berulang setiap tahun. Pergantian waktu juga terjadi pada setiap bulan, pekan, hari, jam, menit, dan detik. Nabi mengajarkan bertobat dengan membaca istighfar di setiap pergantian waktu, tepatnya setiap hari.
Hal ini dikutip oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim, juz 4, halaman 2075:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ، فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Artinya, “Sesungguhnya hatiku merasakan getaran ketakutan kepada Allah. Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah seratus kali dalam satu hari.”
Baca Juga: Khutbah Jumat : Nisfu Sya’ban, Momentum Untuk Merekatkan Persaudaraan dan Menjauhi Permusuhan
Dalam riwayat lain, Nabi juga beristighfar dan bertobat kepada Allah setiap hari. Hal ini direkam oleh imam Al-Bukhari dalam kitab Shaihul Bukhari, juz 8, halaman 67:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Artinya, “Demi Allah, aku beristighfar kepada Allah dan bertobat lebih dari tujuh puluh kali dalam satu hari.”
Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bari, juz 11, halaman 101 mengutip pendapat imam Ibnu al-Baththal bahwa tobatnya Nabi adalah bentuk syukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat makrifat atau mengenal Allah, meskipun masih memiliki kekurangan. Beliau berkata:
الْأَنْبِيَاءُ أَشَدُّ النَّاسِ اجْتِهَادًا فِي الْعِبَادَةِ لِمَا أَعْطَاهُمُ اللهُ تَعَالَى مِنَ الْمَعْرِفَةِ فَهُمْ دَائِبُونَ فِي شُكْرِهِ مُعْتَرِفُونَ لَهُ بِالتَّقْصِيرِ
Artinya, “Para Nabi adalah orang yang paling gigih dalam beribadah karna limpahan nikmat makrifat atau mengenal Allah yang telah diberikan kepada mereka, sehingga mereka selalu bersyukur kepada Allah sebagai pengakuan ata kekurangan diri yang dimiliki.”