TITIKTEMU.CO, Ada berbagai cara menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Termasuk di Aceh. Menjelang ramadan ada budaya unik yang sudah berjalan secara turun-temurun, yakni tradisi Meugang atau acap dikenal juga sebagai Makmeugang.
Meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Tradisi ini identik dengan pemotongan hewan ternak, seperti sapi, kerbau, dan kambing, kemudian dimasak dan dinikmati bersama keluarga, kerabat, dan tetangga. Mungkin di beberapa daerah dikenal sebagai munggahan atau makan bersama menjelang ramadan.
Menurut sejarah , asal mula tradisi Meugang terikat erat dengan sejarah Kesultanan Aceh Darussalam. Pada masa kejayaan Kesultanan Aceh, tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas kemakmuran dan rezeki yang berlimpah, Sultan memerintahkan rakyatnya untuk menyembelih hewan ternak dan membagikan dagingnya kepada rakyat jelata.
Baca Juga: Nabuh Beduk Blandrangan Tradisi Penanda Awal Bulan Puasa Di Kudus
Tak hanya dikaitkan erat dengan religi, tradisi satu ini juga sebagai bentuk saling membantu ekonomi para pedagang, baik itu pedagang daging maupun pedagang bumbu. Mereka biasanya mendirikan pasar dadakan di pinggir-pinggir kota dan ada juga di pasar tradisional.
Seperti halnya di Banda Aceh, tepatnya di desa Beurawe Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Para pedagang mendirikan pasar daging dadakan di sepanjang Jalan T. Iskandar.
Pada hari biasa jalanan ini hanya digunakan untuk melintas saja menuju Kota Banda Aceh atau ke arah Batoh dan Lung Bata. Tapi saat tradisi Meugang, jalan T. Iskandar penuh oleh para pedagang asal Banda Aceh dan Aceh Besar itu, tertata rapi berjejer puluhan meja kayu menjual daging.
Baca Juga: Tradisi Dugderan Menyambut Ramadan Ditengah Hujan , Tetap Khusyu
Menurut pembeli di pasar daging dadakan ini, mengungkapkan kebahagiaanya di hari meugang saat berbelanja daging untuk disantap bersama keluarga. Apalagi biasanya hampir seluruh masyarakat Banda Aceh keluar dan berbelanja daging.
Meski harga daging yang ditawarkan pada hari tersebut terbilang lebih mahal pada hari biasa, namun pembeli tidak mempermasalahkannya karena nuansa yang didapatkan berbanding jauh juga dengan hari biasanya. Sebab baginya meugang memiliki arti sendiri. Selain tradisi berbelanja daging dan makan bersama keluarga, tradisi yang sudah ia jalankan turun temurun ini Meugang di Aceh juga menjadi hari silahturahim.