Tradisi Dugderan Menyambut Ramadan Ditengah Hujan , Tetap Khusyu

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Minggu, 10 Maret 2024 | 07:00 WIB
Suhuf Halaqah  dibaca Sekda Sumarno, diikuuti dengan pemukulan bedug diiringi dentuman meriam “Kalantaka”. (Pemprov Jateng)
Suhuf Halaqah dibaca Sekda Sumarno, diikuuti dengan pemukulan bedug diiringi dentuman meriam “Kalantaka”. (Pemprov Jateng)

TITIKTEMU.CO  Tradisi Dugderan menyambut ramadan yang telah berjalan 143 tahun di Semarang disambut juga oleh curah hujan . Awalnya Tradisi Dugderan, digelar pertamakali  saat Tumenggung Arya Purbaningrat memerintah Semarang pada 1881. Fungsinya, untuk memberitahukan masyarakat di kota ini akan datangnya Ramadan.

Saat ini , Dugderan tetap dilakukan , dimulai dari Balaikota Semarang, kemudian Masjid Agung Semarang (Kauman) dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah. Selain arak-arakan budaya, tradisi itu juga memuat ajaran dan nilai rohani, dengan dibacakannya Suhuf Halaqah, atau putusan ulama terkait permulaan Ramadan.

Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu memberikan Suhuf Halaqah kepada Sekretaris Daerah Jateng Sumarno. Sebagaimana tradisi, pada Dugderan ini, Sumarno berperan sebagai Kanjeng Raden Mas Tumenggung Prawirapradja. Sementara Hevearita Gunaryanti Rahayu memerankan Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbadiningrum.

Baca Juga: Mengenal Tarhib Ramadhan, Tradisi Menyambut Bulan Puasa

Suhuf Halaqah tersebut kemudian  dibaca, diikuuti dengan pemukulan bedug diiringi dentuman meriam “Kalantaka”. Dari paduan onomatopea dug-dug dari bedug dan der-der meriam itulah, kata dugderan itu berasal.

“Ini tradisi yang dilaksanakan di Kota Semarang, ini menandakan untuk permulaan bulan Ramadan. Meski kita masih menunggu pengumuman dari pemerintah untuk melihat hilal, harus disiapkan, sehingga umat muslim memperoleh faedah Ramadan,” ujar Sumarno.

 

Sementara itu Wali Kota Semarang Gunaryanti Hevearita Rahayu menegaskan, tradisi dugderan merupakan warisan leluhur yang wajib dilestarikan. Bukan sekadar pesta menyambut Ramadan, tradisi itu menggambarkan bagaimana pemerintah dan warga guyub bersatu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: AB Soleh

Sumber: Pemprov Jateng

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X