TITIKTEMU.CO - Jika sebagian karakter One Piece mengejar mimpi karena ambisi, Portgas D. Ace justru bergerak karena pertanyaan paling mendasar: apakah keberadaannya pantas ada di dunia ini?
Ia lahir bukan sebagai simbol harapan, melainkan sebagai “kesalahan sejarah” di mata dunia—anak dari Raja Bajak Laut yang paling dibenci Pemerintah Dunia.
Sejak awal, hidup Ace bukan soal menjadi kuat, tetapi mencari alasan untuk tidak membenci dirinya sendiri.
Baca Juga: Teori Loki dan Buah Iblis Tupai: Misteri Elbaf yang Bikin Fans One Piece Deg-degan
Warisan Nama yang Terlalu Berat untuk Seorang Anak
Ace tidak pernah meminta darah Gol D. Roger mengalir di tubuhnya. Namun sejak lahir, nama itu sudah menjadi vonis.
Pengorbanan Portgas D. Rouge yang menahan kehamilan selama 20 bulan bukan hanya tragedi biologis, tapi pesan sunyi: Ace hidup karena nyawa orang lain ditukar untuknya.
Inilah yang membuat Ace tumbuh dengan rasa bersalah permanen. Ia tidak ingin menjadi Roger.
Bahkan, ia membenci sosok ayah yang tak pernah ia kenal, karena nama itulah yang membuat hidupnya terasa seperti kesalahan.
Baca Juga: Ketika Dewa Bisa Mati: One Piece 1154 dan Runtuhnya Kesombongan Saint Saturn
Luffy dan Sabo: Keluarga yang Tidak Dipilih Dunia, Tapi Dipilih Hati
Di Goa Kingdom, Ace untuk pertama kalinya merasakan hidup tanpa label.
Bersama Luffy dan Sabo, ia bukan “anak Raja Bajak Laut”, melainkan kakak yang kuat, ceroboh, dan protektif.
Ikatan mereka bukan tentang darah, tetapi rasa saling membutuhkan.