Saat mencari pengganti di hutan, hidup mereka berubah jadi naskah nyata.
Seekor anaconda raksasa muncul dan menyerang, menempatkan mereka dalam situasi yang sama persis dengan film yang sedang mereka buat ulang.
Absurd Bukan Masalah Utama
Keanehan cerita sebenarnya bukan dosa terbesar film ini.
Justru kesadaran dirinya sebagai parodi membuat semua kegilaan itu masih bisa diterima.
Masalah sesungguhnya ada pada cerita yang setengah matang.
Alurnya berantakan, penuh jalan pintas, dan sering kali kehilangan logika.
Ditambah lagi subplot tentang Ana, seorang perempuan yang kabur dari penambang emas ilegal.
Kisah ini terasa tempelan dan bisa dihapus tanpa mengubah apa pun.
Komedi yang Lupa Cara Mengundang Tawa
Sebagai film yang menjual label komedi, Anaconda versi baru gagal total di titik ini.
Lelucon sering jatuh datar, bahkan memancing keheningan di ruang bioskop.
Sesekali ada sindiran cerdas soal industri Hollywood.
Namun sebagian besar humor terasa tanggung, klise, bahkan kekanak-kanakan.
Pemain Terjebak Naskah Dangkal
Artikel Terkait
Film TIMUR Sisihkan Keuntungan Tiket untuk Korban Banjir Sumatera, Raffi Ahmad: Kita Mungkin Tak Sedarah, Tapi Bersaudara
Raffi Ahmad dan Film TIMUR Salurkan Hasil Tiket untuk Korban Bencana Sumatera, Wujud Nyata Kepedulian Perfilman Indonesia
Rekomendasi 10 Film Bioskop untuk Temani Libur Natal dan Tahun Baru, Lengkap dengan Sinopsis
Janur Ireng Tayang Hari Ini 24 Desember, Prekuel dari Film Horor Sewu Dino
Libur Akhir Tahun Makin Seru: Deretan Film Baru Siap Temani Natal 2025 dan Tahun Baru 2026
Dari Komedi hingga Horor, Ini 10 Film Korea dengan Penonton Terbanyak 2025
Home Alone, Film Ikonik Teman Libur Natal Sepanjang Masa, Dari Kevin McCallister hingga Era Reboot
Kaleidoskop Film Indonesia 2025, Ini Daftar Film Terlaris Tembus Jutaan Penonton di Bioskop
Review Film Avatar: Fire and Ash dengan Konflik Moral yang Lebih Kompleks
Rekor Baru Agak Laen: Menyala Pantiku!, Lampaui Film Pertama dengan 9,2 Juta Penonton