Ayo Nonton Film Pangku di Bioskop, Mulai 6 November!

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Selasa, 4 November 2025 | 08:05 WIB
Ayo Nonton Film Pangku di Bioskop, Mulai 6 November! (Instagram @film_pangku)
Ayo Nonton Film Pangku di Bioskop, Mulai 6 November! (Instagram @film_pangku)

Pendekatan humanis menjadi kekuatan utama Pangku. Alih-alih menghakimi, film ini berusaha memahami bahwa di balik fenomena yang sering dianggap negatif, ada manusia yang berjuang dengan segala keterbatasan.

Baca Juga: Raih Dua Penghargaan di Jakarta Film Week 2025, Crocodile Tears Siap Tayang di Bioskop

Fenomena Kopi Pangku

Fenomena kopi pangku bukan sekadar mitos. Berdasarkan kajian sosiologis, praktik ini muncul di berbagai wilayah Indonesia sejak 1980-an, terutama di jalur Pantura dan Gresik, Jawa Timur.

Dalam artikel “Menyingkap Fenomena Konstruksi Sosial Warung Kopi Pangku di Gresik” (Jurnal Habitus, 2022), Eko Setiawan menjelaskan warung kopi pangku berawal dari tempat menjual tuak dengan perempuan muda sebagai pelayan sekaligus daya tarik.

Pada masa yang sama, booming dangdut koplo dan dangdut erotis turut memperluas popularitas warung-warung kopi pangku di Pantura.

Baca Juga: Drama Korea Bertema Hukum Terbaru 2025: Ketika Keadilan, Misteri, dan Emosi Beradu di Ruang Sidang

Para pelanggan biasanya menikmati kopi sambil ditemani perempuan yang duduk di pangkuannya, karaoke bersama, atau sekadar bergoyang mengikuti irama lagu.

Michael H.B. Raditya dalam bukunya Merangkai Ingatan Mencita Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan, menulis bahwa dangdut koplo bagian dari budaya lokal Pantura yang kemudian melekat pada warung kopi.

Musik, goyangan, dan kopi berpadu dalam satu ruang yang menjadi pelarian masyarakat kelas pekerja dari kerasnya hidup.

Fenomena serupa juga ditemukan di Pontianak. Dalam buku Seri Pusaka Cita Rasa Indonesia: Ragam Minuman Khas Indonesia, tulisan Murdijati-Gardjito dkk.

Buku itu mengungkap bahwa di sana pernah populer istilah kopi pangku yang disajikan para perempuan muda kepada pelanggan, menciptakan interaksi hangat, meski kerap disalahpahami.

Namun, di balik itu semua, realitasnya jauh dari glamor. Banyak perempuan yang bekerja di warung kopi tersebut bukan karena pilihan, melainkan karena tekanan ekonomi.

Seiring waktu, sebagian warung berubah menjadi ruang abu-abu yang mendekati praktik prostitusi terselubung, sebagaimana dicatat Yuyung Abdi dalam Prostitusi: Kisah 60 Daerah di Indonesia.

Baca Juga: Fakta Unik Film Abadi Nan Jaya: Saat Zombie Bertemu Budaya Nusantara di Netflix

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X