Ayo Nonton Film Pangku di Bioskop, Mulai 6 November!

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Selasa, 4 November 2025 | 08:05 WIB
Ayo Nonton Film Pangku di Bioskop, Mulai 6 November! (Instagram @film_pangku)
Ayo Nonton Film Pangku di Bioskop, Mulai 6 November! (Instagram @film_pangku)

TITIKTEMU.CO - Film Pangku karya Reza Rahadian dijadwalkan tayang di bisokop-bioskop Indonesia mulai 6 November 2025, menghadirkan kisah yang berani dan menyentuh hati.

Terinspirasi dari fenomena sosial “kopi pangku” di Pantai Utara Jawa, film ini menyoroti sisi kemanusiaan para perempuan yang bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi dan terbatasnya pilihan.

Dengan jajaran pemain bintang dan pendekatan realis, banyak yang menilai Pangku menjadi salah satu film drama sosial paling kuat sepanjang tahun 2025 ini.

Baca Juga: 7 Film Horor Indonesia Tayang November 2025, Salah Satunya Legenda Kelam Malin Kundang 

Pangku memang berbeda. Ketika sebagian besar film Indonesia berlomba menghadirkan kisah cinta ringan, horor, atau komedi, Pangku justru hadir dengan tema gelap, namun sangat manusiawi dan dekat dengan realita.

Film ini menggambarkan kegetiran hidup di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa, tempat di mana segelas kopi bisa menyimpan kisah perjuangan, cinta, dan luka yang tak terucap.

Disutradarai Reza Rahadian, Pangku dibintangi bintang papan atas Indonesia, seperti Claresta Taufan, Fedi Nuril, Christine Hakim, serta aktor cilik Shakeel Fauzi.

Reza Rahadian yang juga menulis naskahnya bersama Felix K Nesi, menyebut ide film ini telah disimpan selama tujuh tahun sebelum akhirnya diwujudkan ke layar lebar.

Baca Juga: 7 Drama Korea Slice of Life yang Paling Realistis dan Menyentuh, Siapkan Tisu! 

Perempuan yang Bertahan di Tengah Krisis

Latar waktu film ini berada di era krisis moneter 1998, ketika banyak keluarga kehilangan pekerjaan dan perempuan menjadi tulang punggung untuk bertahan hidup.

Melalui karakter Sartika Puspita (Claresta Taufan), penonton diajak menyelami kehidupan perempuan muda yang terpaksa bekerja di warung kopi pangku di kawasan Pantura, Indramayu.

Sartika adalah representasi banyak perempuan Indonesia yang hidup dalam tekanan ekonomi dan stigma sosial. Dia bukan hanya pelayan di warung kopi, tapi juga seorang ibu yang ingin bertahan tanpa kehilangan martabatnya.

“Di Pantura, saya sempat berbincang dengan perempuan yang hidupnya mirip dengan Sartika. Mereka tidak mengeluh, meskipun hidup berat. Dari mereka saya belajar arti bertahan,” kata Claresta.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X