“Barang-barang saya ya sudah (tidak apa-apa hilang), tapi bagaimana dengan barang mertua saya, barang karyawan saya, barang anak saya?” ungkapnya.
Dalam momen itu, Uya juga menghubungi anak-anaknya, Cinta dan Nino, memperlihatkan kamar mereka yang kini kosong, menambah perih suasana.
Jerih Payah Anak-anak Ikut Hilang
Uya menjelaskan bahwa kedua anaknya terbiasa mandiri sejak remaja.
“Cinta dari SMP kelas 3, Nino dari kelas 2 SMP tidak dapat uang jajan dari saya, karena mereka punya penghasilan sendiri dari YouTube dan syuting TV,” jelasnya.
QBaca Juga: Dari Sekolah Rakyat hingga Pengairan Desa, Begini Wujud Nyata PU 608
Ia menegaskan barang-barang yang dijarah adalah hasil jerih payah anak-anaknya. “Jadi, yang kalian ambil itu hak anak saya dari kerja keras mereka,” tegas Uya.
Luka yang Sulit Sembuh
Meski insiden sudah berlalu lebih dari sebulan, rumah Uya Kuya masih menjadi saksi bisu dari amarah massa yang berujung penjarahan. Uya mengakui kerugian ini bukan hanya soal materi, tetapi juga luka psikologis yang sulit disembuhkan.
Di sisi lain, ia dan Astrid berharap peristiwa ini menjadi pengingat agar demonstrasi tidak berubah menjadi tindakan perusakan dan penjarahan yang merugikan masyarakat luas.***
Artikel Terkait
Kemenkes Perketat Pengawasan Program MBG: Wajibkan SLHS, Awasi Proses Masak, hingga Gerakkan Puskesmas dan UKS
Dari Sekolah Rakyat hingga Pengairan Desa, Begini Wujud Nyata PU 608
Pengamat Ekonomi Nilai Sistem Deteksi Dini Bank Selamatkan Dana Rp204 Miliar dari Sindikat Pembobolan Rekening
MK Batalkan UU Tapera: Iuran Wajib Dihapus, Skema Tabungan Jadi Sukarela
Fakta Terkini Kasus Keracunan Massal MBG di Bandung Barat: Temuan Bakteri, Evaluasi Program, hingga Usulan Dapur Sekolah