ekonomi

Gubernur BI Berganti, Tapi Rupiah Diprediksi Tetap Loyo sampai 2031: Ini Masalahnya

Senin, 31 Agustus 2026 | 12:44 WIB

TITIKTEMU.CO-Pergantian orang nomor satu di Bank Indonesia ternyata belum tentu mengubah nasib rupiah. Bahkan, ekonom senior Didik J Rachbini memperkirakan mata uang Indonesia masih akan menghadapi tekanan hingga 2031.

Komisi XI DPR telah menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031. Destry sebelumnya menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri pada 25 Juli 2026.

Persetujuan tersebut diberikan setelah Destry mengikuti uji kelayakan dan kepatutan. Selanjutnya, keputusan itu akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR pada 1 September 2026.

Menariknya, Destry menjadi perempuan pertama yang terpilih secara definitif untuk memimpin bank sentral Indonesia. Pergantian kepemimpinan ini pun memunculkan pertanyaan besar: apakah rupiah akhirnya bisa lebih kuat?

Baca Juga: 1.000+ Lowongan Kerja di KEK Batang Dibuka! 3.500 Orang Sudah Berebut Kursinya

Gubernur Baru Bukan Tongkat Sihir

Menurut Didik, jawabannya tidak sesederhana mengganti pemimpin lalu berharap rupiah otomatis menguat.

Ia menilai persoalan nilai tukar Indonesia sudah berkaitan dengan struktur ekonomi yang jauh lebih dalam. Karena itu, perubahan kepemimpinan BI diperkirakan tidak akan langsung mengubah arah rupiah secara signifikan.

BI memang memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga nilai tukar, termasuk suku bunga. Ketika rupiah tertekan, kenaikan suku bunga dapat membuat aset Indonesia lebih menarik bagi investor asing karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Baca Juga: Apa Itu AHWA? Ini Alasan Forum 9 Kiai Sepuh Kini Berperan Menentukan Ketum PBNU 2026-2031

Masalahnya, suku bunga bukan satu-satunya pertimbangan investor. Biaya transaksi yang tinggi, kepastian hukum, kondisi sosial-politik, hingga kompleksitas kebijakan turut memengaruhi keputusan investasi.

Pasar Indonesia Besar, Tapi Rupiah Tetap Rentan

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar: populasi sekitar 293 juta jiwa dan pasar domestik yang luas.

Tetapi pasar dalam negeri yang besar tidak otomatis membuat mata uang kuat. Menurut Didik, persoalan utamanya justru terletak pada sektor luar negeri Indonesia yang dinilai belum cukup kuat menghasilkan pasokan devisa.

Baca Juga: Gus Kikin Bakal Serahkan Kartu NU ke Prabowo, Janji yang Ditagih Sejak Muktamar Dibuka

Ekonomi yang terlalu berputar di dalam negeri memang bisa menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, aktivitas tersebut sebagian besar hanya menghasilkan perputaran rupiah, bukan tambahan dollar AS yang dibutuhkan untuk transaksi internasional.

Halaman:

Tags

Terkini