Di sisi lain, upaya diplomasi mulai terlihat untuk meredakan ketegangan global. Sejumlah negara menawarkan diri sebagai mediator dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Langkah ini diharapkan dapat menekan eskalasi konflik sekaligus menstabilkan pasar energi dunia.
Baca Juga: Jadwal Buka Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan BSI Usai Lebaran 2026, Catat Tanggalnya!
Ketegangan di Timur Tengah sendiri telah berdampak besar terhadap pasokan energi global. Sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair dunia yang melewati Selat Hormuz mengalami gangguan.
Hal ini menyebabkan harga energi naik dan memperkuat tekanan inflasi di banyak negara.
Sejumlah bank sentral dunia juga menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah cepat jika inflasi terus meningkat. Kebijakan ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas dalam beberapa waktu terakhir.
Meski saat ini harga emas melemah, beberapa analis melihatnya sebagai reaksi pasar yang berlebihan. Setelah sempat mengalami kenaikan signifikan di awal tahun, koreksi ini dianggap sebagai penyesuaian alami.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 11 Persen dalam Sepekan, Masih Layak Jadi Safe Haven?
Menunggu Perkembangan Global
Secara keseluruhan, harga emas spot kini telah turun lebih dari 21 persen dari puncaknya pada akhir Januari 2026. Bahkan sejak konflik geopolitik memanas pada akhir Februari, harga emas tercatat melemah hampir 17 persen.
Untuk logam mulia lainnya, pergerakan harga terlihat bervariasi. Harga perak justru mengalami kenaikan tipis, sementara platinum menguat cukup signifikan. Di sisi lain, palladium mencatat penurunan yang lebih dalam.
Melihat kondisi ini, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan global, terutama terkait kebijakan suku bunga dan situasi geopolitik.***