ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp 16.802 per Dolar AS, Isu Tarif Global dan Sinyal The Fed Bayangi Pasar

Senin, 23 Februari 2026 | 17:15 WIB
Rupiah Menguat ke Rp 16.802 per Dolar AS, Isu Tarif Global dan Sinyal The Fed Bayangi Pasar. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

TITIKTEMU.CO - Nilai tukar rupiah membuka pekan ini dengan performa positif. Di pasar spot, rupiah ditutup menguat ke level Rp 16.802 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin 23 Februari 2026.

Posisi ini mencerminkan apresiasi sekitar 0,51 persen dibanding akhir pekan sebelumnya di Rp16.888 per dolar AS. Penguatan rupiah ini menjadi sorotan pelaku pasar di tengah meningkatnya tensi perdagangan global.

Tak hanya di pasar spot, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga menunjukkan tren serupa.

Rupiah tercatat di level Rp 16.818 per dolar AS, menguat dibanding posisi sebelumnya di Rp 16.885 per dolar AS. Pergerakan ini menandakan sentimen domestik relatif stabil, meski tekanan global belum mereda.

Baca Juga: Ketika Pasar Kripto Tersandung: Bitcoin, Ethereum, dan Kawan-Kawan Kompak Terpeleset 

Isu Kebijakan perdagangan AS

Isu utama yang membayangi pasar keuangan global datang dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan terkait rencana tarif impor global.

Pemerintah AS disebut akan memberlakukan tarif sebesar 15 persen terhadap sejumlah produk impor, yang merupakan batas maksimum sesuai ketentuan hukum perdagangan di negara tersebut.

Kebijakan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi balasan dari negara mitra dagang. Risiko perang dagang jilid baru dinilai mengganggu rantai pasok global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca Juga: 99 Prosen Produk AS Masuk RI Tanpa Tarif, Ancaman untuk UMKM atau Peluang Emas? 

Ketidakpastian ekonomi dunia terkait durasi serta cakupan tarif juga membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.

Selain faktor tarif, data ekonomi terbaru dari AS turut memengaruhi arah pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.

Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV tahun lalu direvisi turun cukup tajam menjadi 1,4 persen secara tahunan dari sebelumnya 4,4 persen.

Perlambatan ini antara lain dipicu dampak penutupan pemerintahan AS yang berlangsung selama lebih dari satu bulan.

Halaman:

Tags

Terkini