TITIKTEMU.CO - Keputusan mengimpor 105.000 unit pikap dari India tengah menjadi bahan perbincangan hangat.
Bukan sekadar soal angka yang fantastis, melainkan juga tentang pilihan: mengapa perusahaan milik negara, PT Agrinas Pangan Nusantara, lebih melirik pabrikan luar negeri dibandingkan produsen dalam negeri?
Langkah ini terasa kontras, apalagi di tengah wacana pemerintah yang menargetkan mobil nasional bisa diproduksi pada 2027.
Publik pun bertanya-tanya, ke mana arah kompas industri otomotif kita sebenarnya?
Baca Juga: LPDP dan Muhammadiyah Gelontorkan Rp20 Miliar untuk 26 Riset Strategis, Dorong Amal Usaha Naik Kelas
Kontrak Jumbo Bernilai Puluhan Triliun
Tak main-main, total nilai kontrak impor ini menyentuh angka Rp 24,66 triliun. Kerja sama tersebut melibatkan dua raksasa otomotif India: Mahindra & Mahindra Ltd serta Tata Motors.
Dari Mahindra, Agrinas memesan 35.000 unit Scorpio Pick Up tipe single cabin. Kendaraan ini akan digunakan untuk mendukung operasional logistik program Kopdes Merah Putih.
Sementara itu, Tata Motors mendapat porsi lebih besar, yakni 70.000 unit. Rinciannya terdiri dari 35.000 pikap Tata Yodha dan 35.000 truk Ultra T.7.
Seluruh armada ini diproyeksikan menjadi tulang punggung distribusi dan logistik di berbagai wilayah.
Baca Juga: Doa Hari Ketiga Ramadhan 2026: Amalan Pembuka Ilmu dan Penjernih Hati di Bulan Suci
Ambisi Ekspansi Global di Balik Kerja Sama
Bagi Mahindra, pesanan besar ini bukan hanya soal bisnis biasa.
CEO Otomotif Mahindra & Mahindra Ltd, Nalinikanth Gollagunta, menyebut kemitraan ini sebagai dorongan signifikan bagi operasi internasional perusahaan.