Kisah itu tak berhenti sebagai bunga tidur.
Ia kemudian menanyakan makna mimpi tersebut kepada juru kunci makam.
Jawabannya mengejutkan: mimpi itu diyakini sebagai petunjuk dari Mbah Djugo agar Ong Hok Liong mengganti nama pabriknya.
Baca Juga: Rekor Cristiano Ronaldo Bergeser dalam 24 Jam, Haaland dan Mbappe Cetak Sejarah Baru
Ziarah, Keyakinan, dan Keputusan Besar
Ong Hok Liong memang dikenal gemar berziarah. Catatan George Quinn dalam Bandit Saints of Java (2019) menyebutkan bahwa pada 1954 ia mendatangi makam keramat Mbah Djugo di kawasan Gunung Kawi.
Saat itu, penjualan rokoknya belum memuaskan.
Ia pun mengganti merek produknya dengan nama “bentul”, sebutan Jawa untuk ubi talas.
Dalam ejaan lama, kata itu lebih dikenal sebagai Bentoel—nama yang kelak melegenda.
Baca Juga: Membaca Ulang Dunia One Piece: Ketika Tiga Dunia dan Mural Kuno Bicara Tentang Takdir
Dari Mimpi Menjadi Kekayaan
Keputusan itu terbukti manjur.
Hingga wafat pada 1967, Ong Hok Liong telah menjadi multi jutawan, dan Bentoel menjelma sebagai salah satu produsen rokok pribumi terbesar di Indonesia.
Tongkat estafet kemudian berpindah ke anak-anaknya.
Budhiwijaya Kusumanegara dipercaya memimpin perusahaan sebagai Presiden Direktur.