daerah

Peternak di Kendal Budidayakan Lalat Hitam atau Maggot untuk Pakan Itik Alternatif

Kamis, 3 November 2022 | 19:06 WIB
Peternak itik Desa Turunrejo Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal berfoto bersama dengan Tim Pengabdian dari FPP UNDIP seusai pelatihan (pic/fpp undip)

TITIKTEMU.CO - Peternak itik di Desa Turunrejo Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal, akhir-akhir ini terkendala penyediaan pakan itik yang mahal.

Harga bahan pakan yang semakin meningkat menyebabkan menurunnya pendapatan peternak itik. Untuk memecahkan permasalahan ini, peternak itik dengan didampingi Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip mencoba untuk mendapatkan pakan alternatif guna menekan biaya pakan.

Tim pengabdian dari Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan FPP Undip, yang diketuai oleh
Istna Mangisah, SPt, MP telah melakukan kegiatan pendampingan peternak itik selama tiga bulan.

Baca Juga: Tempat Wisata Aceh, Mulai Dari Bangunan Bersejarah hingga Danau Laut Tawar di Dataran Tinggi Gayo

“Lalat Hitam atau Black Soldier Flies, yang dikenal dengan nama Maggot, merupakan salah satu pakan alternatif yang berkualitas untuk ternak itik,” ungkap Istna.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa kandungan protein yang tinggi (mencapai 38%) dan lemak yang cukup tinggi (20%) serta mudahnya budidaya menjadikan maggot semakin berkembang.

Budidaya maggot dapat dilakukan dengan cara sederhana dan biaya yang murah. Maggot dapat memanfaatkan sampah organik sebagai pakan dan menghasilkan pertumbuhan yang baik.

Baca Juga: Polrestro Jakarta Pusat naikkan status hukum kisruh konser musik Berdendang Bergoyang ke tahap penyidikan

Salah seorang guru besar Undip yang terlibat dalam kegiatan pendampingan yaitu Prof Dr Ir Vitus Dwi Yunianto BI, MS, MSc menyatakan, maggot dapat diberikan sebagai pakan pengganti bungkil kedelai maupun tepung ikan.

Dan hasilnya sampai saat ini tidak ada dampak negatifnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah pasokan dan kontinuitas maggot.

Kegiatan pendampingan dimulai dengan penyuluhan tentang teknis budidaya maggot dari penetasan telur sampai dengan budidaya lalat dewasa. Kegiatan selanjutnya adalah penyerahan 100 gram telur maggot, alat dan pakan untuk budidaya.

Baca Juga: Bupati Baddrut Tamam terima dua penghargaan saat Hari Jadi Pamekasan ke 492

Dijelaskan Dr Ir Mulyono, MSi, peneliti maggot dari Undip, telur maggot ditetaskan pada media yang lembut sedikit basah dan kandungan nutrisinya tinggi. Telur maggot ini tidak boleh diletakkan langsung pada media, namun diletakkan pada kasa di atas media. Dan harus dilindungi agar tidak dipenuhi oleh lalat lain.

Setelah 5 hingga 7 hari sejak menetas, maggot dipindahkan ke biopond, yaitu tempat larva maggot akan menghabiskan sampah organik. Biopond diisi dengan sampah organik (limbah rumah tangga, limbah buah, limbah sayur dan lain-lain), dengan kadar air 70-80%.

Kondisi sampah tidak terlalu halus dan lunak, sehingga tidak menyulitkan maggot untuk bergerak dan bernapas. Maggot dapat dipanen pada umur 15-20 hari dan dapat langsung digunakan sebagai pakan atau dikeringkan lebih dulu.

Baca Juga: INFO LOKER : TRANS7 buka banyak posisi Lowongan Kerja. Sarjana semua jurusan boleh daftar

Halaman:

Tags

Terkini