Waktu ashar tiba, bubur yang sudah matang akan disusun berderet dengan rapi di latar masjid. Semangkuk bubur India biasanya disajikan dengan sepotong semangka, tiga biji buah kurma dan teh manis atau susu coklat hangat.
Menjelang waktu azan Salat Magrib tiba ratusan warga berdatangan. Mereka terlebih dulu mengikuti jamaah pengajian di dalam masjid.
Setelah itu, para jamaah akan duduk di bagian sisi kanan masjid yang telah tertata mangkuk ukuran kecil berisikan bubur India.
Mangkuk itu berjajar rapi dengan dilengkapi satu gelas minuman hangat baik teh maupun susu cokelat, serta sepotong buah semangka.
Jamaah menempatkan diri di titik dekat mangkuk. Begitu azan bergema, mereka segera menyantap bubur India dan lainnya.
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Cuti Lebaran 29 April dan 4-6 Mei 2022, Ini Pernyataan Lengkap Presiden Jokowi
Rutinitas kegiatan buka puasa bersama dengan menu bubur India masih berlangsung setiap kali Ramadan, dan akan berlangsung sampai malam Lebaran Idul Fitri tiba.
Disinggung mengenai sejarah bubur India di Masjid Pekojan, Ali membeberkan, hal itu bermula dari adanya pedagang asal India yang berdagang ke Semarang. Mereka tidak hanya berdagang tapi juga berdakwah.
Selama di Semarang, mereka berdomisili di Masjid Pekojan dan sekitarnya. “Karena sering bertemu, kita diberi tahu bumbunya atau mengajak membuat bubur India,” pungkas Ali.***