TITIKTEMU.CO- Taman Pintar mampu mengelola dan menyelesaikan sampah yang diproduksi hingga 60 persen dengan metode Integrative Eco Management. Metode tersebut sudah dilakukan sejak akhir 2018, dengan menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam pengelolaannya.
Menurut Kepala Seksi Kerjasama dan Pemasaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Budaya Kota Yogyakarta Karmila, dalam satu hari jumlah sampah yang diproduksi Taman Pintar pada hari biasa antara 200 sampai 300 kilogram, sementara di akhir pekan, saat ada pameran, ataupun high season mencapai 1.000 hingga 1.200 kilogram, lanjut Mila.
Sebagian besar sampah di Taman Pintar itu anorganik, kata Mila. Seperti botol minum dan kardus makanan, kalau sampah organik itu daun dan sisa makanan dari pengunjung yang membawa bekal maupun dari food court.
“Sampah organik dikelola menggunakan metode biopori, komposter dan budidaya lalat hitam, kalau sampah anorganik dikelola oleh pihak ketiga yaitu Rapel, dan sampah residu diangkut Dinas Lingkungan Hidup,” terangnya.
Baca Juga: Pembuang Sampah Sembarangan Di Kota Yogyakarta Akan Diproses Yustisi
Menurut Mila pengolahan sampah jadi pariwisata berkelanjutan, sampah yang ada di Taman Pintar diolah secara mandiri, walau belum seratus persen bisa diselesaikan, tapi sekitar 60 persen sampah dapat ditangani.
" Kami membawa misi untuk mengajak dan mengedukasi masyarakat, agar memiliki kemauan untuk memilah sampah hingga mengelolanya dimulai dari cara sederhana,” pungkasnya.
Sejak TPA Piyungan ditutup bulan lalu, menurut Penanggung Jawab Pengelolaan Sampah Taman Pintar, Anggi Fanani, makin banyak masyarakat yang datang ke Taman Pintar untuk belajar cara pengolahan sampah terutama sampah organik.
“Mulai dari Karang Taruna, PKK dan juga sekolah-sekolah di Kota Yogyakarta banyak yang belajar di Zona Pengelolaan Sampah, edukasinya seputar jenis sampah, bagaimana pemilahannya, hingga praktik mengolah sampah organik,” katanya.
Sampah organik di Taman Pintar bisa dikatakan sudah 90 persen dapat teratasi, jelas Anggi. Dengan adanya 24 lubang biopori, tabung komposter juga peternakan lalat hitam. Bahkan hasil dari olahan sampah organik, seperti pupuk kompos dan maggot ataupun lalat hitam dapat dimanfaatkan langsung untuk tanaman dan ikan juga burung di Taman Pintar.
Baca Juga: Fakultas Biologi UGM Perkenalkan Pengelolaan Sampah Efektif
“Jadi siklusnya berputar terus, sampah organik yang ada diolah, kemudian hasilnya dimanfaatkan kembali, untuk sampah sisa makanan yang diolah dengan budidaya lalat hitam bisa menampung hingga 200 kilogram, sementara lubang biopori mampu menampung 150 kilogram sampah daun dan ranting yang telah dicacah,” ujarnya.
Anggi juga menambahkan, Zona Pengelolaan Sampah Taman Pintar dapat memberikan edukasi dan pelatihan secara gratis bagi masyarakat umum. Caranya tinggal mengajukan surat permohonan, kemudian nanti akan dihubungi kapan waktu pelaksanaannya.
Artikel Terkait
Kandang Manggot, Cara Ampuh Pengolahan Sampah Warga Di Masa Darurat Sampah
TPS Pengelolaan Sampah dengan Teknologi Penghilang Bau, Punya UGM Dan Sleman
Fakultas Biologi UGM Perkenalkan Pengelolaan Sampah Efektif
Kelola Sampah Rumah Tangga Jadi Pakan Ikan , Ini Baru Keren
Pembuang Sampah Sembarangan Di Kota Yogyakarta Akan Diproses Yustisi