Desa Karangpelem Merayakan Ulang Tahunnya Ke 103 Untuk Pertama

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Kamis, 12 September 2024 | 20:23 WIB
Peringatan 103 tahun Desa Karangpelem (Pemprov Jateng)
Peringatan 103 tahun Desa Karangpelem (Pemprov Jateng)

TITIKTEMU.CO, Untuk pertama kalinya , Desa Karangpelem merayakan hari berdirinya sejak  103 tahun lalu. Hari Jadi desa yang terletak di bagian selatan Kecamatan Kedawung itu tidak serta-merta diperingati,  melainkan melalui proses penelusuran sejarah yang panjang sejak 2023, dan masih akan terus berlangsung hingga 2025.

Pegiat Budaya dari Palapa Mendira Harja Sragen, Tri Sukowati menuturkan, kelahiran Desa Karangpelem ditetapkan pada (9/9/1921) berdasarkan peta zaman Belanda tahun 1921, yang memuat nama Desa Karangpelem di dalamnya.

“Pertimbangan juga didasarkan pada peta persil Desa Karangpelem tahun 1935. Namun berdasarkan Musyawarah Desa bersama sesepuh, Ketua RT, dan perangkat desa, disepakati tahun kelahiran Desa Karangpelem pada 1921,” terangnya.

Sedangkan untuk waktunya, Tri menjelaskan, tanggal dan bulan didasarkan pada weton desa yaitu Jumat Pon. Hari Jumat Pon pada 1921 yang bertepatan dengan bulan sakral bagi masyarakat Jawa, yaitu Bulan Suro, jatuh pada 9 September.

Baca Juga: Warisan Jajanan Nusantara, Kampung Klepon di Sidoarjo Bangkitkan Ekonomi Desa Berkat Binaan BRI

“Kebudayaan yang ditampilkan hari ini merupakan hasil dari penelisikan sejarah kami ke Keraton Kasunanan Surakarta, dengan pendampingan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen. Seperti Tari Wireng ini, kami mencari referensi ke Pura Mangkunegaran,” ujar Tri.

Penggalian sejarah ini tidak hanya melahirkan hari jadi dan memunculkan kembali kebudayaan Desa Karangpelem, namun juga menjadi awal ditemukannya sebuah peninggalan dari tahun 1800-an berupa batu Yoni.

“Kami masih berusaha mencari yang lain, karena menurut warga ada banyak Yoni di Desa Karangpelem. Ada indikasi prasasti juga, tapi kami masih menggali lebih lanjut di beberapa titik lokasi,” urainya.

Penemuan Desa Karangpelem yang sebelumnya bernama Desa Tunggon disebutkan dalam Babad Giyanti, di mana Pangeran Mangkubumi pernah menempuh perjalanan melewati daerah bernama Tunggon yang terletak di kaki Gunung Lawu.

Baca Juga: Festival Pangan Lokal Undang Banyak Pengunjung Dan Omset

Perjalanan Pangeran Mangkubumi tersebut dalam rangka meminta restu mertuanya, Ki Ageng Derpoyudo, yang memiliki anak dari istri yang lain bernama Eyang Sedo, leluhur masyarakat Desa Karangpelem.

Upaya keras dari Pemerintah Desa Karangpelem dan para pegiat budaya tersebut juga mendapatkan perhatian dari Camat Kedawung, Endang Widayati, yang menyebut Desa Karangpelem sebagai satu-satunya desa di Kecamatan Kedawung, yang berhasil mengadakan penelusuran sejarah untuk memutuskan hari jadi desa.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sragen (Disporapar), Joko Hendang Murdono, mengapresiasi Pemdes Karangpelem, pegiat budaya, dan Keraton Surakarta, yang secara maksimal telah melakukan penelusuran sejarah dari segi kajian teori dan ketokohan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: AB Soleh

Sumber: Pemprov Jateng

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X