Seorang Perempuan Amerika Di Baghdad

photo author
Erwin Saputra, TitikTemu.co
- Senin, 16 Agustus 2021 | 21:17 WIB
Pixabay/Grace Dickason
Pixabay/Grace Dickason

"Namun entah kenapa, apapun niat awalnya menjalin hubungan denganku, aku percaya, Nancy benar-benar mencintaiku atau mulai benar-benar mencintaiku. Dan ia sadar, ia tengah berperang dengan perasaannya sendiri. Nancy tahu, kehadiran seorang anak akan makin memperumit situasi yang ia hadapi. Karena, hati kecil dan nalurinya sebagai seorang ibu, pasti akan cenderung mengikatnya pada keluarga dan suami. Di sisi lain, kehadiran anak sudah pasti akan mengganggu tugasnya sebagai agen."

"Itulah yang kualami, temanku. Perang terus berkecamuk di Irak. Negeriku hancur, dan kehidupanku pun hancur. Dengan menceritakan ini padamu, aku tidak mengharapkan apa-apa. Aku hanya sedikit ingin melegakan hatiku yang galau ini. Aku tak tahu, mesti bercerita pada siapa lagi, karena makin sedikit orang yang bisa menjadi tempat mencurahkan isi hati di Baghdad ini. Dan mereka pun tak punya waktu untuk mendengarkan kisahku, karena di bawah bawah bayang-bayang kematian dan hujan bom dari pesawat-pesawat Amerika, setiap orang di Baghdad ini memiliki kisah sedih sendiri-sendiri... Salam dari Baghdad. Temanmu selamanya, Saeed."

Itulah pesan terakhir yang kuterima dari Saeed. Kira-kira seminggu kemudian, aku kembali menerima e-mail dari Ahmad Walid. Isinya singkat: "Mas Rio, saya ingin menyampaikan berita duka. Kemarin malam, sebuah bom Amerika menghancurkan gedung Deplu Irak jadi puing-puing. Sebelas orang tewas dan 36 lainnya luka-luka akibat bom berkekuatan besar itu. Sebagian besar korban adalah warga sipil, dan salah satu yang tewas adalah teman Anda, Saeed..."

Ah, betapa anehnya permainan nasib ini. Aku hanya bisa tercenung dan bersedih untuk Saeed. Namun, betapapun tragisnya, nasib Saeed sudah jelas. Sedangkan tentang Nancy, masih belum jelas. Hanya sebuah berita yang samar-samar, pernah kudengar dari laporan Owen Lazenby, seorang wartawan televisi BBC di Irak. Katanya, Nancy termasuk salah satu warga asing, yang diselamatkan oleh pasukan khusus Amerika.
Ketika itu, mereka menyerbu sebuah rumah sakit di kota Nasiriyah, Irak Selatan, untuk membebaskan enam tentara Amerika yang ditawan, dan secara tak terduga menemukan Nancy di sana.

Aku tak pernah lagi mendengar kabar tentang Nancy, setelah itu. Mungkin, lebih baik begitu. Karena aku tak tahu, apa yang harus kukatakan atau kulakukan, kalau bertemu lagi dengannya. Kebenaran tentang Nancy yang betul-betul kuyakini cuma satu. Seorang perempuan Amerika yang pernah kukenal di Baghdad (Satrio Arismunandar, mantan wartawan Kompas dan Trans7)

Depok II Tengah, April 2003.

(Cerpen ini pernah dimuat di Kompas Minggu)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Erwin Saputra

Sumber: Satrio Arismunandar

Tags

Rekomendasi

Terkini

PART 34 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Minggu, 6 Agustus 2023 | 08:10 WIB

PART 33 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Minggu, 6 Agustus 2023 | 06:29 WIB

PART 32 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Sabtu, 5 Agustus 2023 | 08:00 WIB

PART 31 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Sabtu, 5 Agustus 2023 | 06:30 WIB

PART 30 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 20:05 WIB

PART 29 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 17:26 WIB

PART 28 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 08:00 WIB

PART 27 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 06:00 WIB
X