Seorang Perempuan Amerika Di Baghdad

photo author
Erwin Saputra, TitikTemu.co
- Senin, 16 Agustus 2021 | 21:17 WIB
Pixabay/Grace Dickason
Pixabay/Grace Dickason

Misi perdamaian kami gagal. Aku memutuskan pulang ke Indonesia, karena praktis tak ada lagi yang bisa kulakukan. Prabha dan Miyuki juga punya pikiran serupa. Sedangkan Nancy mengatakan, masih akan tinggal beberapa hari lagi di Baghdad. Ia tak mengatakan alasannya, tapi kuduga karena ia tak ingin cepat-cepat berpisah dari Saeed.

Esoknya, aku, Miyuki dan Prabha pulang dengan jalan darat ke Amman, Yordania, karena semua penerbangan ke dan dari Irak sudah ditutup. Saeed dan Nancy mengantar kami sampai taksi yang kami carter. Sebelum berpisah, kami berjanji untuk tetap saling kontak. Saeed dan Nancy melambai, ketika taksi kami melaju meninggalkan tempat penginapan.

Aku tak banyak mendengar kabar lagi tentang Saeed dan Nancy sesudah itu. Tetapi, kemudian kudengar kabar dari Miyuki, yang sering mengirim e-mail kepadaku, bahwa setahun sesudah berakhirnya Perang Teluk, persisnya tahun 1992, Nancy dan Saeed menikah di Baghdad. Saeed tetap bekerja di Deplu Irak. Karirnya makin menanjak. Sedangkan Nancy kemudian bekerja di sebuah badan PBB, yang mengurusi program bantuan pangan untuk Irak.

*

Aku baru bertemu Saeed lagi tahun 1999. Ia sedang mengunjungi Kedutaan Besar Irak di Jakarta, dalam suatu tugas dari kantornya. Saeed meneleponku, dan kami pun bertemu di sebuah restoran makanan Arab di Jalan Raden Saleh. Sambil menyantap kebab, kami mengobrol tentang masa lalu, ketika perang tahun 1991. Tetapi, yang lebih ingin kuketahui adalah kabar tentang Nancy, istri Saeed sekarang.

"Aku minta maaf, Rio, tidak memberi kabar padamu tentang pernikahan kami waktu itu. Semua berlangsung begitu cepat, dan aksesku keluar juga sangat sempit. Untunglah, Nancy masih menjaga kontak dengan Miyuki, sehingga kaupun akhirnya tahu tentang pernikahan kami," tutur Saeed. Ia tampak sedikit lebih tua, tapi senyumnya masih ramah seperti Saeed yang kukenal dulu. Namun senyumnya kali ini tidak betul-betul lepas, seperti ada yang mengganjal.

Dari obrolan berikutnya, aku membaca keprihatinan Saeed. Ini berkait dengan Nancy. Selama ini tidak ada persoalan serius di antara mereka, kecuali satu: soal anak. Nancy tidak mau atau belum mau punya anak. Menurut penuturan Saeed, alasan yang dikeluarkan Nancy macam-macam. Mulai dari kesibukan di karir dan pekerjaan, yang membuatnya terlalu lelah dan tak punya waktu mengurus anak, serta berbagai alasan lain.

Alasan ini tak bisa dipahami Saeed. Malah bisa dikatakan, sejak awal menjalin hubungan, ia tidak pernah memperkirakan masalah ini akan muncul di antara mereka.
Sebaliknya, dari sisi Saeed, sebagai seorang pria Arab yang sudah berkeluarga, masalah anak dan keturunan ini sangat penting. Ia mengaku tetap mencintai Nancy, tetapi soal anak ini merenggangkan hubungan mereka. Saeed masih berusaha mempertahankan perkawinan ini, dengan harapan cepat atau lambat Nancy akan berubah pikiran.

"Itulah, Rio. Sayang, aku tak bisa tinggal lama di Jakarta. Kontaklah aku kalau kau mau ke Baghdad. Meskipun Irak masih menderita akibat embargo PBB, kondisi Baghdad sekarang sudah lebih baik. Berbagai kerusakan akibat pemboman Amerika tahun 1991 sudah diperbaiki. Kita akan makan ikan bakar di pinggir Sungai Tigris, seperti dulu lagi," ujarnya. Itulah ucapan Saeed terakhir yang kuingat, sebelum ia pulang kembali ke negerinya.

Sesudah itu, karena kesibukan masing-masing, aku jarang berkontak lagi dengan Saeed. Sekali dua kali, aku menerima kiriman surat atau kartu posnya. Aku tak pernah membayangkan, kenangan akan Nancy dan Saeed akan muncul lagi justru dalam situasi yang sangat buruk, setelah Amerika dan Inggris mengagresi Irak, Maret 2003. Ketika televisi menayangkan gambar gedung-gedung kota Baghdad, yang hancur dan terbakar, akibat dibombardir secara membabi-buta oleh mesin militer canggih Amerika, aku hanya bisa bertanya: Di mana Saeed dan Nancy? Bagaimana kabar mereka? Apakah mereka selamat?

Aku sempat bertanya ke Kedutaan Irak di Jakarta, tetapi pejabat di sana hanya bisa angkat bahu, karena kontak dengan pemerintah di Baghdad sudah terputus. Bahkan, apakah masih ada pemerintahan yang efektif di Baghdad, juga tanda tanya besar. Secara tak terduga, kabar tentang Nancy dan Saeed justru kuperoleh dari Ahmad Walid, temanku dan reporter Trans TV yang bertugas meliput agresi Amerika-Inggris di Irak. Ahmad mengenalku, sejak secara intensif meliput gerakan antiperang dan beberapa kali mewawancaraiku.

"Mas Rio yang baik," begitu awal pesan e-mail yang dikirimkan Ahmad untukku. "Ketika meliput di Baghdad, saya sempat bertemu seorang pejabat Deplu Irak. Namanya Saeed Mursheed al-Majeed. Ketika ia tahu saya jurnalis dari Indonesia, ia langsung bertanya, apakah saya kenal Mas Rio. Ia sangat gembira, ketika saya katakan bahwa saya berteman dengan Anda. Maka, ia minta izin, menulis pesan pribadi buat Mas Rio. Untuk menjaga hubungan baik, saya membolehkannya meminjam notebook saya, buat menulis surat. Surat itu saya sampaikan ke Mas Rio, dalam attachment file di bawah ini."

Kubuka attachment file dalam e-mail Ahmad itu. Dan kukenali baris-baris kalimat yang ditulis Saeed. Aku merasa napasku jadi sesak. "Rio, aku tak tahu, dosa apa yang telah kuperbuat sehingga aku harus mengalami semua ini. Mungkin kau juga memantau berita tentang perang di Irak, bahwa 10 hari lalu, televisi Irak menayangkan gambar sejumlah warga, yang dituduh bekerja sebagai mata-mata Badan Intelijen Pusat Amerika, CIA. Satu hal yang tidak disampaikan di berita itu adalah dinas intelijen Irak juga telah menangkap Nancy! Ya, Nancy! Kau tidak percaya, bukan? Demi Allah, aku pun tak bisa percaya."

Kuteruskan membaca. "Tapi Mukhabarat atau pihak intelijen Irak menunjukkan bukti alat-alat telekomunikasi, yang ditemukan di tempat tersembunyi, di tempat penginapan Nancy di Basra. Karena sering bertugas jauh di luar kota Baghdad, Nancy memang mengontrak sebuah rumah untuk tempat tinggalnya di sana. Aku tak pernah tahu soal alat-alat telekomunikasi itu. Gara-gara itu, aku pun diinterogasi Mukhabarat selama dua hari berturut-turut. Syukurlah, sejauh ini mereka percaya, aku tak terlibat dan tak tahu-menahu sama sekali dengan urusan alat telekomunikasi itu."

"Namun, yang paling membuatku khawatir dan sedih, mereka membawa Nancy. Aku tak tahu di mana Nancy sekarang, dan bagaimana nasibnya. Tetapi sekarang aku mengerti satu hal, yang selama ini mengganggu perkawinan kami. Kalau betul, Nancy adalah agen CIA, semuanya menjadi jelas. Ia menikahiku, karena aku adalah anggota Partai Ba'ath dan berprospek menjadi pejabat tinggi di Kementerian Luar Negeri Irak. Tanpa kusadari, aku menjadi sumber informasi tangan pertama, tentang apa yang berlangsung di dalam pemerintahan Saddam Hussein."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Erwin Saputra

Sumber: Satrio Arismunandar

Tags

Rekomendasi

Terkini

PART 34 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Minggu, 6 Agustus 2023 | 08:10 WIB

PART 33 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Minggu, 6 Agustus 2023 | 06:29 WIB

PART 32 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Sabtu, 5 Agustus 2023 | 08:00 WIB

PART 31 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Sabtu, 5 Agustus 2023 | 06:30 WIB

PART 30 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 20:05 WIB

PART 29 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 17:26 WIB

PART 28 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 08:00 WIB

PART 27 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 06:00 WIB
X