Tari Bedhaya Ketawang, Tarian Sakral Keraton Surakarta

photo author
Ganug Nugroho Adi, TitikTemu.co
- Rabu, 18 Agustus 2021 | 16:47 WIB
Tari Bedhaya Ketawang (Ganug Nugroho Adi)
Tari Bedhaya Ketawang (Ganug Nugroho Adi)

Tari Bedhaya Ketawang diakhiri dengan fragmen yang menggambarkan perpisahan Sang Raja dengan Ratu Pantai Selatan.

Raja-raja Mataram kerap dikaitkan dengan Kanjeng Ratu Kidul. Konon, hal ini tidak lepas dari upaya legitimasi kekuasaan para raja.

Dengan menghubungkan dunia nyata dan mistik, seorang raja akan mendapatkan legitimasi kuat, yaitu laut dan daratan sehingga mengurangi munculnya pemberontakan.

Maka, dalam Perjanjian Giyanti, Raja Surakarta Paku Buwono III mempertahankan Bedhaya Ketawang. Kasultanan Yogyakarta akhirnya menciptakan tarian baru, yaitu  Bedhaya Semang.

Sembilan Penari

Sembilan penari dalam Bedhaya Ketawang melambangkan 9 arah mata angin. Masyarakat Jawa klasik meyakini terdapat 9 dewa yang menguasai sembilan arah mata angin (Nawasanga).

Keembilan dewa itu adalah Wisnu (Utara), Sambu (Timur Laut), Iswara (Timur), Mahesora (Tenggara), Brahma (Selatan), Rudra (Barat Daya), Mahadewa (Barat), Sengkara (Barat Laut), dan Siwa (Tengah).

Sembilan penari Bedhaya Ketawang mewakili masing-masing dewa yang bertugas menjaga keseimbangan alam mikrokosmos (jagat kecil) dan makrokosmos (jagat besar).  Itulah konsep kosmologi yang ada dalam masyarakat Jawa sejak ratusan tahun.

Selain itu, angka sembilan juga menyimbolkan keberadaan alam semesta. Yaitu, matahari, bintang, bulan, langit, tanah, air, angin, api, dan makhluk hidup***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X