Selain sebagai sport tourism, Tradisi Pacu Jawi menjadi perayaan ucapan syukur atas masa panen masyarakat. Itulah mengapa, balapan sapi dilakukan di hamparan sawah setelah panen padi. Uniknya, joki mengendalikan sapinya dengan cara menggigit ekor sapi agar semakin berlari kencang.
Baca Juga: Tari Bedhaya Ketawang, Tarian Sakral Keraton Surakarta
Sandalwood Sumba
Kalau tadi sapi, sport tourism selanjutnya menggunakan kuda poni khas Sumba, yaitu Sandalwood. Menurut sejarah, kuda Sandalwood merupakan persilangan kuda Arab dengan kuda lokal untuk mendapatkan penampilan yang lebih gagah.
Diambil dari nama pohon Cendana, kuda Sandalwood memiliki ciri fisik yang lebih pendek dibandingkan kuda ras Eropa maupun Amerika. Tinggi punggung kuda hanya sekitar 130-140 cm, namun memiliki leher yang kekar, dan memiliki berbagai warna, seperti abu-abu, hitam, cokelat tua, putih, hingga belang.
Kuda didekorasi memakai aksesoris unik dan penunggangnya menggunakan kostum tradisional selama Festival Kuda Sandalwood berlangsung,. Menariknya lagi, wisatawan juga dapat merasakan sensasi berkuda keliling berbagai destinasi menakjubkan di Sumba.
Baca Juga: Mengenal Astana Girilayu, Kompleks Makam Raja-raja Mangkunegaran
Pacuan Kuda Gayo
Seperti Sumba, Aceh juga mempunyai sport tourism berkuda, yakni Pacuan Kuda Gayo. Konon katanya Pacuan Kuda Gayo yang diikuti ratusan kuda ini sudah dilakukan sebelum Belanda datang.
Pacuan Kuda Gayo merupakan tradisi turun temurun masyarakat Gayo untuk menyambut dan merayakan masa panen, antara Agustus dan September. Berawal dari budaya turun temurun, kegiatan ini sekarang menjadi salah satu daya tarik wisata di Gayo.
Baca Juga: Resep 7 Minuman Tradisional, Bisa Jadi Usaha Rumahan Lho!
Pacu Jalur
Pacu Jalur adalah lomba dayung tradisional Provinsi Riau yang memadukan unsur olahraga, seni, dan olah batin. Pacu Jalur digelar untuk melestarikan budaya. Mengingat sejak tahun 1900-an perahu adalah transportasi utama masyarakat Kuantan Singingi, Riau. Pacu Jalur juga masuk kategori sport tourism dengan kearifan lokal di Indonesia.
Uniknya, kegiatan olahraga yang mirip dengan Perahu Naga ini menggunakan perahu sepanjang 25-40 meter, dan bisa diisi hingga 40 pendayung. Bukan hanya menarik wisatawan domestik, Pacu Jalur berhasil menarik wisatawan mancanegara, seperti Malaysia, Amerika Serikat, dan Australia.