TITIKTEMU.CO, SOLO - Sejak lebih dari 200 tahun lalu Solomemiliki dua kampung istimewa, yaitu Kampung Laweyan dan Kampung Kauman.
Bukan semata-mata karena sebagai kampung tua, tapi juga karena kedua kampung itu menyimpan jejak panjang industri batik.
Pada masanya kedua kampung pernah menikmati masa keemasan berdagang batik. Sampai akhirnya industri batik tradisional runtuh karena dilindas batik printing dari Tiongkok.
Baca Juga: Sama-sama Kerajaan Mataram, Mengapa Batik Solo Beda dengan Yogyakarta? Ini Sejarahnya
Masa-masa pahit itu berlangsung cukup panjang mulai tahun 1980-an. Industri batik, tulis dan cap, baru di kampung eksotis itu awal tahun 2000.
Kini, lebih dari 20 tahun kemudian, batik telah membawa Kauman dan Laweyan menjadi tujuan wisata Solo, terutama wisata belanja dan wisata sejarah yang populer.
“Kampung Laweyan lebih ke wisata edukasi. Sebelum pandemi setiap hari ada turis asing belajar batik,” kata Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Alpha Fabela.
Baca Juga: Batik, Dibabar dan Dititik. Jangan Pernah Menyebut Ecoprint Sebagai Batik
Pada awal Joko Widodo atau Jokowi menjadi Walikota tahun 2005, potensi Kampung Laweyan mulai dikembangkan sebagai sentra wisata batik, sekaligus kawasan cagar budaya.
Di kawasan seluas 24 hektar itu terdapat banyak bangunan cagar budaya dengan arsitektur unik, perpaduan gaya tradisional Jawa, Eropa, Cina, dan Islam.
Tak heran jika di Kampung Laweyan banyak ditemukan gang-gang sempit layaknya kawasan Town Space karena setiap rumah memiliki pagar besar.
Baca Juga: Sejarah Batik Indonesia. Benarkah Ternyata Bukan dari Wilayah Jawa?
Itulah rumah-rumah juragan (pengusaha) batik di Laweyan pada awal abad ke-20 yang hingga kini masih tersisa.
Tadisi tradisi panjang batik dan bangunan cagar budaya itulah pengembangan Kampung Laweyan diarahkan pada wisata dengan konsep rumahku galeriku.