Baca Juga: 5 Es Kopi Susu Kekinian yang Rasanya Ajaib Banget, Ini Resepnya
Tak hanya melakukan edukasi, Komunitas Kopi Wonogiri dan Wonogirich pun membantu pemasaran dengan sistem branding kedaerahan. Sayangnya, volume produksi kopi Wonogiri masih rendah. Untuk jenis robusta, dari Girimarto, Jatiroto, dan Slogohimo hanya menghasilkan kurang dari 10 ton setiap masa panen. Sementara untuk jenis arabika, Bulukerto dan Girimarto hanya mampu memproduksi tak lebih dari 2 ton.
“Lahan kopi di Wonogiri sebenarnya cukup luas, tapi belum banyak petani yang menggarapnya. Saat ini baru sekitar 200-an petani, masih banyak lahan kopi yang belum digarap,” ujar Bagus.
Menurut Bagus, branding daerah asal kopi penting karena daerah tanam kopi sangat memengaruhi cita rasa kopi itu sendiri. Hasil dari branding itu adalah munculnya beberapa varian, seperti Arabica Conto, Robusta Brenggolo, dan Robusta Semagar. Varian kopi Wonogiri itu laris di banyak kedai kopi di Wonogiri, Surakarta dan Yogyakarta.
Baca Juga: Ini Alasan Mengapa Minum Kopi Hitam Sangat Dianjurkan
Harga kopi Wonogiri dalam bentuk green bean mencapai Rp 70 ribu per kilogram. Harga tersebut naik empat kali lipat dibanding penjualan kopi dalam bentuk cerry atau buah merah kopi yang hanya 15 ribu-Rp 20 ribu per kilogram. JP/Ganug Nhugroho Adi
Untuk mendorong petani, Wonogirich bersama Yayasan Kayon Gunungan Boyolali membantu 1.500 bibit bibit kopi arabica ke petani di Desa Bubakan, Girimarto, dan 1.000 bibit kopi liberika ke petani Tirtomoyo.
Komunitas Kopi Wonogiri dan Wonogirich juga menggelar sejumlah event untuk mengenalkan kopi Wonogiri, antara lain gerakan Wonogiri Nduwe Kopi (Wonogiri Punya Kopi), Wonogiri Nandur Kopi (Wonogiri Menanam Kopi), dan sejumlah festival kopi.
“Kami akan dorong komunitas-komunitas kopi untuk menciptakan pasar, salah satunya dengan merancang desa wisata kopi. Ada tiga kawasan yang kita siapkan, yaitu di Girimarto, Jatisrono, dan Bulukerto,” kata Bupati Wonogiri, Joko “Jekek” Sutopo.
Baca Juga: Ini Rekomedasi Alat Seduh Kopi Saat Harus di Rumah Saja
Jekek menyampaikan rancangan desa wisata kopi akan neggabungkan ekowisata, yaitu mengajak wisatawan proses pengolahan kopi dari perkebunan hingga proses menjadi minuman yang siap disajikan.
“Tahun depan semuanya sudah siap. Ini wisata yang menggabungkan antara alam, usaha menengah kecil menengah, dan kenikmatan minum kopi,” ujar Jekek. (***)