Menurut penjelasan Wasinem, pahatan tersebut memiliki fungsi sebagai alat untuk menghitung wuku. Di dalam pahatan yang berbentuk kotak tersebut terdapat tanda-tanda yang berupa titik-titik, bulat, garis miring, dan tanda silang.
Wasinem yang berprofesi sebagai petani dan ibu rumah tangga mengaku dirinya mengetahui papan Pranata Mangsa tersebut untuk menghitung wuku dari sang kakek. Sang suami sempat meneruskan keahlian kakeknya sebagai penghitung wuku namun tak berjalan lama. Setelahnya, Wasinem menggantikan sang suami karena bisa menggunakan benda tersebut. Jika tidak digunakan, papan tersebut dimasukkan ke kain putih lalu disimpan di lemari.
Baca Juga: Salak Madu Kini Jadi Idola Petani Sleman
"Percaya ga percaya, papan inilah yang memilih siapa yang bisa menggunakan. Di rumah ini hanya saya yang bisa menggunakan papan Pranata Mangsa, anak saya tidak bisa. Saya pun berusaha menjaga papan ini dan menyimpannya dengan baik serta digunakan untuk tujuan baik," kata Wasinem.
Secara fisik, bentuk bidang persegi panjang yang terdapat pada Papan Sangatan milik Wasinem tidak begitu lurus dan tidak begitu presisi. Sepintas bentuk Papan Sangatan dan pahatannya tampak begitu sederhana. Meskipun demikian, bentuk tersebut tidak mengurangi fungsi dari Papan Sangatan yang sudah termasuk sangat langka sehingga perlu dilestarikan.
Artikel Terkait
Kopdar komunitas pecinta hewan dihadiri Tim Karantina Pertanian Cilegon dan Lucky Hakim artis pecinta hewan
Pemkab Wonogiri Salurkan Alsintan untuk Dorong Modernisasi Pertanian
Kabupaten Semarang Punya Hasil Pertanian Unggulan
HEBAT ! Alumnus UGM Ini Memilih jadi Penyuluh Pertanian di Daerah 3T