Festival Lima Gunung Dimeriahkan 120 Kelompok Kesenian, Masih Berlangsung Tuh

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Rabu, 18 September 2024 | 11:00 WIB
Festival  diawali pada Selasa (17/9) di Sanggar Dhom Sunthil di Dusun Warangan (Pemprov Jateng)
Festival diawali pada Selasa (17/9) di Sanggar Dhom Sunthil di Dusun Warangan (Pemprov Jateng)

TITIKTEMU.CO, Festival Lima Gunung XXIII digelar pada 17-29 September 2024. Festival kesenian itu diprakarsai oleh Komunitas Lima Gunung dan bertempat di sejumlah titik. Saat ini, sudah ada 120 kelompok kesenian atau kurang lebih 2.000 orang yang berpartisipasi dari berbagai daerah yang akan mengikuti festival .

Ketua Komunitas Lima Gunung, Sujono menjelaskan, biasanya festival tersebut hanya digelar selama tiga hari. Namun, tahun ini berlangsung lebih dari tiga hari karena antusiasme peserta yang tinggi. Puncak kegiatan akan berlangsung pada 25 hingga 29 September 2024.

“Ketika melihat pendaftar banyak, teman-teman minta dilaksanakan empat hari. Ternyata masih banyak yang mendaftar lagi. Sehingga kami adakan lima hari. Itu pun banyak kesenian yang kami tolak,” ujar Sujono.

Baca Juga: Menggema di Ecuador Jazz Festival 2024. Jadi Satu-satunya di Amerika Latin, Gamelan Masuk Kurikulum Mata Kuliah

Sujono mengatakan, 120-an kelompok kesenian itu berasal dari berbagai daerah, yakni Magelang, Purworejo, Wonosobo, Temanggung, Kebumen, Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Malang, Bali, Indramayu, Cikampek, Jakarta, Lumajang, Bogor, dan Bulukumba.

“Bahkan, ada kelompok kesenian dari luar negeri, seperti Malaysia dan Meksiko,” lanjutnya.

Festival itu mengusung tema Wolak Waliking Zaman Kelakone. Tema tersebut dipilih sebagai refleksi anggota komunitas terhadap peristiwa aktual yang dihadapi akhir-akhir ini. Termasuk pancaran proyeksi nilai-nilai untuk harapan lebih baik atas masa depan kehidupan manusia serta kondisi sosial lingkungan.


Festival tersebut diawali pada Selasa (17/9) di Sanggar Dhom Sunthil di Dusun Warangan, Muneng Warangan, Pakis. Ada dua kelompok kesenian dari Kota Magelang yang menampilkan tariannya. Kemudian, pada Jumat (20/9) ada diskusi berjudul Manuskrip Merapi-Merbabu di Studio Mendut.

Baca Juga: Menparekraf Apresiasi Festival Kota Lama Semarang Masuk Karisma Event Nusantara (KEN) 2024

Pada Minggu (22/9) ada pementasan wayang kulit dengan lakon Kumbokarna Mlebu Swarga. Lalu, pada Rabu (25/9) ada pameran foto dari sejumlah wartawan dengan judul Rencang Lima Gunung Ring Setengah di Dusun Keron, Krogowanan, Sawangan.

Sujono menambahkan, berbagai pementasan akan dihadirkan dalam festival tersebut. Antara lain tari tradisional, tari modern, tari kontemporer, musik, kirab budaya, pidato kebudayaan, performa seni, pantomim, teater, hingga pagelaran wayang. Selain itu, sejumlah seniman juga akan membuat karya seni lukis secara on the spot di empat titik arena festival.

Panggung festival yang disiapkan memiliki luas 10 x 12 meter persegi dengan tinggi 70 cm. Sedangkan instalasi seni di Dusun Keron dikerjakan secara gotong royong oleh warga setempat sejak tiga bulan lalu. Warga pun antusias untuk mempersiapkan panggungnya.

Sementara bahan-bahan yang digunakan, lanjutnya, sama seperti pagelaran sebelumnya. Yakni dengan memanfaatkan bahan alami, seperti jerami, akar tembakau, jagung, dan lain-lain.

Menariknya, panggung pementasan akan dilengkapi dengana aneka serangga. Termasuk 25 patung semut. Bahannya berasal dari anyaman bambu yang menjadi simbol kekhasan seniman petani Dusun Keron dalam kelompok Sanggar Saujana.


Tidak hanya itu, pada festival kali ini, para pegiat Komunitas Lima Gunung bersama jejaringnya mementaskan wayang orang dengan lakon Endang Werdiningsih. Penulis naskah dan sutradaranya adalah Sitras Anjilin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: AB Soleh

Sumber: Pemprov Jateng

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X