Baca Juga: Piala Dunia Qatar 2022: Perancis Tetap Perkasa Tanpa Karim Benzema dan Paul Pogba
"Ketika kita di Prancis saat kami menyambut orang asing Kami ingin mereka mengikuti peraturan kami untuk menghormati budaya kami dan saya akan melakukan hal yang sama saat saya pergi ke Qatar .Cukup sederhana saya bisa setuju atau tidak setuju dengan ide2 mereka, tapi saya harus menunjukkan respect ."kata Loris pada Bein Sport .
Berbeda dengan apa yang dikatakan Saka dan Loris, Josh Cavalo yang merupakan seorang pesepakbola gay mengaku tidak setuju dengan peraturan FIFA. Bahkan pemain Adelaide United Australia itu hilang rasa respectnya kepada Induk organisasi sepak bola dunia tersebut.
Baca Juga: Iker Casillas Mantan Kiper Real Madrid Dihack Akui Gay Tapi Minta Maaf Ke Kaum LGBT, Cek Faktanya
"FIFA, saya mencintai identitas saya, saya melihat anda telah melarang semua tim mengenakan ban lengan One Love untuk mendukung komunitas LGBT. Anda telah kehilangan rasa hormat saya rekan-rekan saya melakukan semua pekerjaan untuk menjadikan sepak bola inklusif. Anda telah menunjukkan bahwa sepak bola bukanlah tempat untuk semua orang ,"kata Cavalo pada The Guardian
Terlepas dari apa yang sudah terjadi apa yang dilakukan oleh FIFA hingga pemerintah Qatar adalah merupakan aturan sesuai nilai sosial dan budaya setempat, dalam hal ini, negara Qatar.
Baca Juga: Reaksi Dunia Lihat Arab Saudi Kalahkan Argentina Hingga Raja Arab Umumkan Hari Libur Nasional
Sepakbola bukan merupakan ajang yang bertujuan untuk mengkampanyekan isu LGBT.
Di masyarakat Qatar, LGBT memang sangat dilarang di Qatar karena mayoritas warga Qatar beragama muslim, yang pastinya sangat anti dengan hal-hal seperti itu.***