Santai, tapi bersemangat. Di tribun seberang, beberapa ratus pendukung Mansfield dengan gaduh menabuh genderang, sambil memasang dua bendera besar dengan motif dan warna mirip biru-kuning bendera Swedia.
Pertandingannya sendiri berjalan imbang di babak pertama, tak ada insiden berarti kecuali dua insiden yang menurut ibu di sebelah kiri saya adalah handball yang seharusnya dihukum penalti.
Di babak kedua baru Orient menekan dan beberapa kali menciptakan peluang.
Tapi sampai akhir pertandingan, skor tetap 0-0, meski pada sekitar 10 menit terakhir Mansfield bermain dengan 10 orang.
Baca Juga: Jadi Tersangka dan Ditahan KPK, Azis Syamsuddin Trending di Twitter
Saya senang melihat para wanita lansia di samping saya dengan bersemangat menyumpahi wasit dan para pemain Mansfield. Suasana pertandingan benar-benar hidup
Di akhir pertandingan, announcer di stadion mengumumkan bahwa pertandingan ditonton 5,252 orang, termasuk 357 penggemar Mansfield. Kapasitas stadion sekitar 9,200 orang.
Lumayan saya pikir, kalau rata-rata karcis pertandingan £20, pemasukan klub dari pertandingan kemarin sekitar £100,000.
Baca Juga: Malam Mingguan Ogah Keluar Rumah, ini yang Dilakukan Eks Bening Vonny Cornellya
Antara yang lokal dan yang global
Para penonton semacam ini lah yang membuat sepekbola Inggris tumbuh secara organik. Semua klub berawal dari perkumpulan lokal semacam Orient.
Sebagian tumbuh besar seperti West Ham, yang juga berasal dari London Timur, dan klub-klub Premier League Lainnya.
Sebelum Premier League terbentuk pada tahun 1992, dan taipan media Rupert Murdoch bertaruh besar-besaran dengan membayar hak siar seharga ratusan juta dollar, harga tiket merupakan sumber pemasukan utama bagi klub-klub di Inggris.
Baca Juga: Di Klaten Airlangga Hartarto juga Ziarah ke Makam Mbah Lim
Premier League memperlebar jarak antara 20 klub yang berada di dalamnya, dengan jenjang kompetisi profesional di bawahnya.