Seiring berjalannya waktu, kepanduan Hindia-Belanda mulai aktif mengadakan dan mengikuti jambore baik lokal maupun internasional sampai akhirnya setelah masa kemerdekaan, dilangsungkan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta dengan Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia.
Namun kepanduan Indonesia sempat mengalami perpecahan hingga pada awal Oktober 1959, Presiden Soekarno dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX melebur seluruh organisasi kepanduan yang ada menjadi satu dengan nama Pramuka.
Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat luas dalam suatu upacara di halaman Istana Negara pada 14 Agustus 1961.
Ditandai dengan penyerahan Panji Gerakan Pramuka dari Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu menjadi Ketua pertama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Panji itu lalu diteruskan Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada suatu barisan defile yang terdiri dari para Pramuka di Jakarta, dan dibawa berkeliling kota.
Baca Juga: LALIGA: Real Madrid Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan 14 kali di Laga Pembuka
Tanggal 14 Agustus itulah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pramuka dan dirayakan setiap tahunnya.
Gerakan Pramuka adalah organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan yang dilaksanakan di Indonesia.
Kata Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti Orang Muda yang Suka Berkarya.
Baca Juga: Manchester United Dikabarkan akan Boyong Alvaro Morata dari Atletico Madrid
“Pramuka” merupakan sebutan bagi Anggota Gerakan Pramuka, yang meliputi;
- Pramuka Siaga (7-10 tahun),
- Pramuka Penggalang (11-15 tahun),
- Pramuka Penegak (16-20 tahun) dan
- Pramuka Pandega (21-25 tahun).
Kelompok anggota yang lain disebut anggota dewasa. Sedangkan yang dimaksud “Kepramukaan” adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur.