Perhatian juga diarahkan ke lintasan Tanah Abang–Rangkasbitung yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur tersibuk di jaringan KRL Jabodetabek.
Pada jam-jam tertentu, tingkat keterisian kereta bahkan melampaui kapasitas ideal. Situasi tersebut membuat perjalanan menjadi kurang nyaman bagi penumpang yang harus berdesakan setiap hari.
Untuk mengatasi masalah tersebut, sistem elektrifikasi di jalur itu akan ditingkatkan sehingga memungkinkan penggunaan rangkaian kereta yang lebih panjang dan mampu mengangkut lebih banyak penumpang.
Double-Double Track Jadi Kunci
Selain elektrifikasi, pemerintah juga mempercepat pembangunan jalur Double-Double Track atau DDT.
Konsepnya sederhana tetapi sangat penting. Jalur kereta jarak jauh dan jalur KRL akan dipisahkan sehingga keduanya tidak saling mengganggu.
Saat ini, beberapa lintasan masih digunakan secara bersamaan oleh kereta komuter dan kereta antarkota. Kondisi tersebut sering menjadi salah satu penyebab keterlambatan perjalanan.
Dengan hadirnya DDT, operasional kereta diharapkan menjadi lebih lancar, lebih tepat waktu, dan memiliki kapasitas yang lebih besar.
Bagi masyarakat Cikampek, proyek ini bukan sekadar pembangunan rel dan kabel listrik. Ini adalah langkah menuju perjalanan yang lebih cepat, lebih praktis, dan lebih terhubung dengan pusat aktivitas ekonomi di Jakarta. Jika seluruh rencana berjalan mulus, perjalanan harian jutaan komuter di masa depan bisa terasa jauh berbeda dibanding hari ini.***