Di tengah dunia politik yang sering dianggap kaku dan penuh formalitas, pendekatan santai justru menjadi nilai tambah.
Baca Juga: Resmi Jadi BUMN! PT Danantara Sumberdaya Indonesia Siap Sikat Mafia Ekspor Komoditas
Anak muda cenderung lebih mudah menerima figur publik yang terasa akrab, tidak terlalu defensif, dan bisa ikut tertawa bersama netizen.
Pengamat komunikasi politik Kunto Adi Wibowo bahkan menilai Golkar bisa mendapatkan keuntungan besar dengan strategi riding the wave atau menunggangi gelombang viralitas.
Daripada melawan arus atau melarang konten tersebut, menikmati momentum dianggap jauh lebih efektif untuk membangun citra positif.
Menurutnya, jika Golkar bersikap keras terhadap lagu itu, justru bisa memunculkan kesan antikritik dan terlalu serius.
Sebaliknya, dengan ikut menikmati tren yang sedang ramai, partai bisa terlihat lebih dekat dengan kultur digital generasi muda.
Efek lainnya adalah meningkatnya popularitas nama Bahlil Lahadalia di ruang publik. Tanpa harus mengeluarkan biaya kampanye besar, nama “Bahlil” kini terus muncul di berbagai platform media sosial lewat lagu yang diputar berulang-ulang.
Baca Juga: Bukan Sabotase! Terungkap Misteri Putusnya Kabel SUTET Pemicu Mati Lampu Massal Se-Sumatera
Fenomena ini memperlihatkan bahwa di era internet, pengulangan adalah kekuatan. Semakin sering publik mendengar sebuah nama dalam format yang menyenangkan, semakin mudah nama itu melekat di ingatan.
Tidak sedikit anak-anak hingga orang tua yang akhirnya ikut menyanyikan lagu tersebut karena liriknya sederhana dan lucu.
Inilah yang membuat konten humor sering kali lebih efektif dibanding kampanye formal yang terasa kaku dan terlalu dibuat-buat.
Pada akhirnya, viralnya “Mas Bahlil Ganteng” bukan sekadar soal lagu receh internet.
Fenomena ini menunjukkan bahwa politik modern kini bergerak di ruang yang lebih cair, spontan, dan dipengaruhi budaya digital.