Selain merusak hubungan intim tersebut, terjebak dalam pusaran tren "isme" ini juga menciptakan sebuah standar kesempurnaan palsu yang sangat melelahkan mental.
Kita menjadi sangat takut berbuat salah dan tanpa sadar mulai membandingkan cara mendidik kita dengan kehidupan orang lain yang tampak sangat estetik dan tanpa cela di layar kaca ponsel.
Baca Juga: Buruan Daftar! PT Nindya Karya BUMN Buka Lowongan 2 Posisi Strategis, Deadline 24 Mei 2026
Padahal, realitas di balik layar sering kali sangat berbeda jauh dari apa yang ditampilkan dalam video berdurasi tiga puluh detik tersebut.
Ketika kita berhenti melabeli diri sendiri dengan istilah-istilah keren itu, kita sebenarnya sedang memberikan ruang yang luas bagi diri kita untuk tumbuh dan belajar bersama anak secara organik.
Sudah saatnya kita semua berani mengambil langkah mundur, menarik napas dalam-dalam, dan mulai menyingkirkan segala bentuk label kaku yang hanya menambah beban di pundak yang sudah lelah ini.
Menjadi orang tua yang baik sama sekali tidak butuh validasi dari istilah-istilah modern atau pengakuan dari komunitas daring tertentu yang belum tentu paham situasi nyata kita.
Anak Anda hanya membutuhkan kehadiran Anda yang seutuhnya, orang tua yang nyata, yang sesekali bisa berbuat salah namun selalu punya ruang maaf dan cinta yang tulus untuk memperbaiki segalanya di hari esok.***